SUASANA SESEORANG YANG TELAH MENCAPAI MOKSA SEPERTI RUDRA DI DUNIA

 






KAKAWIN NIRARTHA PRAKRETA

Om Awighnamastu
SARDULA WIKRIDITA
1. Santawya ngwang i jong Bhatāra Paramārthātyanta ring niskala,
sang tan sah sinamādhi munggwi těngahin hrěttika sunyālaya,
sûryopāma sirān prakāsa měnuhi sarātma diptojjwala,
byaktāwās kahiděp swadipa suměnö lumréng manah niscala.
Mohon ampun hamba dibawah-Mu Bhatara Paramartha di alam niskala, yang senantiasa hamba jadikan pusat semadi dan sthanakan di dalam hati, bagaikan Surya yang memenuhi segala makhluk, tentu terpikirkan jelas cahayanya sendiri yang bersinar menyusup ke dalam pikiran yang hening.
2. Ndah yan mangkana lot sayojya hana ring cittātisuddhottama,
manggěh sādhananingwan amrih atěkěn lambing guměgwang karas,
nāhan donku n amuspa ring pratidinéng ratryāmalar sanmatan,
pintěn kārananing wěnang rumacana ng sabdātěmah bhāsita.
Dengan demikian tentulah Bhatara Paramartha senantiasa berada di dalam hati yang suci dan utama, yang hamba jadikan sarana Sastra menyuratkannya ke dalam lontar, itulah tujuan hamba menyembah siang dan malam memohon tuntunan, sehingga hamba dapat menyusun kata menjadi karya sastra.
3. Ngwang pwātyanta wimohitāpan alěwěs tucchā kanisteng sarāt,
ndan dûrān wruha marna-marna śāstrārtha widyāgama,
anghing duhkita kewalāmrati sumök lwir andhakārāngasut,
tan wruh panglawanganing larānupama hétungkwangikět lambanga.
Hamba adalah orang yang bodoh, nista dan dinistakan masyarakat, sangat jauh kemungkinan hamba mendapatkan hakikat sastra maupun pengetahuan suci, namun hamba tidak dapat menahan kesedihan yang bagaikan diselimuti gelap gulita, tidak tahu jalan meredakan derita itulah sebabnya hamba mengikat karya sastra ini.
4. Dûrān manduka yān pamuktya wangining tuňjung prakirnéng bañu,
ékasthā rahinéng kulěm tathapi tan wruh punyaning pangkaja,
bhéda mwang gatining madhubrata sakéng doh ndan wawang sparśaka,
himpěr mangkana mûdhaningwang anukěr jöng sang widagdhéng naya.
Tentu mustahillah si katak dapat menikmati wangi bunga teratai yang tersebar di air, siang dan malam berada di tempat yang sama tanpa mengetahui pemberian si bunga teratai, berbeda dengan si lebah dari jauh ia bisa merasakannya, seperti itulah kebodohan hamba tentu akan mengotori kaki beliau yang pandai bijaksana.
5. Ring prajngadhika mitraning suka lawan swargatidiwyénusir,
yan ring durgati duhka mitranilkihen sthirangiket tan kasha,
yan ring budhi mahaprakopa taya len tang papa mitrangiwo,
ndah yeking tri pamitra sancaya gegon tekang sayogyalapen.
Orang yang pandai dan bijaksana menjadi sahabat kesukaan dan akan menemui sorga, orang berhati jahat menjadi sahabat kedukaan yang sangat kuat mengikatnya sehingga tidak dapat bergerak, orang yang serakah tiada lain menjadi sahabat kesengsaraan, itulah tiga sahabat ketahuilah yang patut dipilih
6. Sangksepanya lana prihen pinaka mitra sadhu santakreti,
lawan haywa minitra tang kujana durtawas maweh wadhaka,
ton tang hangsa mamitra wayasa sagotranyan wisirnapejah,
ndah mangka jana durwiweka tumemu ng wighna nda tanpopama.
Kesimpulannya usahakanlah terus menerus berteman dengan orang yang bijaksana dan berbudi pekerti mulia, dan janganlah berteman dengan orang yang jahat, loba dan serakah, karena akan membawa bencana, lihatlah angsa yang berteman denga burung gagak, seluruh keluarganya habis dibunuhnya, seperti itu orang yang kurang wiweka akan menemui bencana yang besar.
7. Anghing tan sipi mewehin wang tang prajnya wiwekanulus,
prajnyanindita towi meweh ika sang mahyun pamijeng hayu,
yadyan pujita karma dira tang anemwa jnana meweh temen,
sang hyang sacra tuwin winodhana sawetnyatyantaning durlabha.
Namun tidak mudah mengetahui orang yang bijaksana, wiweka dan tulus hati, orang yang pandai bijaksana juga sukar mendapatkan keselamatan, begitu juga orang yang berbuat mulia untuk menemui kesempurnaan rohani, Sang Hyang Indra juga harus diberi petunjuk untuk mencapainya, karena sangat sulit
8. Byaktekan kakaniscayan rusiting twas nghing sudhairya ng manah,
kadyangganing amet bhinukti mangarembha dhanya sangkeng lemah,
lot mritya mateken parasraya mijil wwahning tinandurnira,
panggil rakwa samangkanekana ng asadhyahyun manemwang phala.
Betapapun sulitnya meningkatkan kerohanian tersebut teguhkanlah hati, seperti mendapatkan makanan dengan menanam padi di tanah harus dengan penuh kesabaran, dengan pertolongan orang lain akhirnya keluarlah hasil yang ditanamnya, seperti itu jugalah orang yang ingin berhasil.
9. Tan lyan ring mangusir gunadhika sanaih-sanaih kramanika,
lawan tingkahi sang widagdha mangamer suratna wanita,
mwang buddhinta masewaken nrepati len mareng siragiri,
ndah yekan pwa catur prakaranika tan dadi n gelis-gelis.
Tiada lain bertindak sabar untuk mendapatkan hal itu, demikian juga dengan orang yang pandai memikat gadis cantik, demikian juga bila ingin mengabdi kepada raja atau hendak mendaki puncak gunung, itulah empat hal yang tidak dapat dicapai dengan tergesa-gesa.
10. Ring suklendu samatra tambayanikaweweh kedik-kedik,
ring plaksalpika suksma wijanika ghora ta pwa tumuluy,
mangka ng satpada panghisepnya madhu nitya mogha mapupul,
tadwat mangkana ring lanotsaha temahnya purna wekasan.
Pada waktu paruh bulan membesar perlahan, juga seperti pohon beringin berasal dari biji yang kecil lalu menjadi besar, demikian juga lebah dalam menghisap madu sehingga banyak terkumpul, seperti itulah tak henti-hentinya berbuat hingga akhirnya menjadi sempurna.
11. Lawan salwiraning gunadyapi tan arghya yogya ya gegon,
drestan tang kriya banyageka wiwidha n swabanda tinenget,
donyapet karanya mentasa ri sarwa bhumi ng usiren,
donyasing pinalakwa tumbasenikang wwang haywa katunan.
Juga segala kepandaian walaupun terasa tak berguna patut juga diperhatikan, lihatlah pedagang yang mengembara menyimpan berbagai benda dengan baik, untuk mendapatkan benda itu ia pergi ke berbagai daerah dan negeri, tujuannya bila ada yang membeli tidak kekurangan.
12. Sampunyan pada wreddhi ng artha salekasnikaphala tuwin,
nda tan warsih amet muwah sahananing minulya ring aji,
mamrih kwehani gatyaning gaway anindya lana temunen,
rapwan pangguhaken wisesa mani jiwa tulya lingika.
Setelah arthanya banyak ia dapat melaksanakan kehendaknya, namun tidak berhenti mencari benda-benda yang bernilai tinggi, senantiasa ingin mendapatkan yang lebih banyak dan lebih berhasil dalam pekerjaan, supaya dapat menemukan permata kehidupan katanya.
13. Sangsiptan taya len sudharma wekasing hinuttama dhana,
kwehning hema suratna bhusana winasa jati rasika,
stri len putra sawandhu Santana nahan ya mogha mapasah,
mukya ng jiwita towi meweh ika ring ksana karma hilang.
Singkatnya tidak ada kekayaan yang melebihi kebajikan, begitu banyak emas permata dan perhiasan semuanya akan binasa, istri putra-putri dan sanak keluarga akhirnya akan berpisah, bahkan yang utama yaitu jiwa akhirnya begitu cepat akan hilang.
14. Ring laksmi makahingan ing greha taman winawa ri sedenging paratrika,
ngkaneng smasana hinganing swakula wandhawa weka-weka bharya tan waneh,
nghing tang karmika purwa yan sukreta duskreta manuduhaken tekeng paran,
dharmadharma tinutnya salakwa dadi milu manuntun ing henu.
Kekayaan batasnya hanya di rumah tidak akan dibawa sewaktu meninggal, sampai di kuburan batasnya sanak saudara, anak dan istri, tiada lain, namun perbuatan yang dilakukan pada saat hidup baik maupun buruk akan menjadi penunjuk jalan kemana akan pergi, benar atau salah akan diikuti akan menjadi penunjuk jalan.
15. Apang tan hana len nimittaning amangguh ala sinaputing putek hati,
sangkeng karmika wreddhi kopa dadi lobha temahanika moha tan surud,
sangkeng moha si mada, mada dadi matsara kujana katungka garwita,
ndah yan mangkana tan wurung tumemu pataka saka ri wimudhaning hidep.
Karena tiada lain yang menjadi penyebab orang mendapatkan kecelakaan diselimuti oleh kegelapan hati-pikiran,
dari perbuatan yang ditumbuhi oleh PIKIRAN KEAKUAN menimbulkan KESERAKAHAN (lobha) dilanjutkan oleh KEBINGUNGAN (moha) yang tiada henti,
KEBINGUNGAN (moha) menimbulkan KEMABUKAN (mada),
KEMABUKAN menimbulkan PERASAAN IRI, KEJAHATAN PIKIRAN, KEBEBALAN dan KECEROBOHAN,
kalau demikian halnya tak dapat dihindari akan menemukan bencana karena kebodohannya sendiri.
16. Atyanteng atighoraning tasik awas kalanguyan i gatinya mangkana,
lawan koddhretaning manik ri tutuking kupita-makara yeka tar mangel,
krura ng taksaka dadya puspa sama ring hulu kasuhuna wastu panggihen,
tan mangka ng sata-buddhi ya pratiniwista kadawutanikardha bhisana.
Sungguh kedahsyatan samudra akan dapat terseberangi, demikian pula permata yang berada di mulut ikan ‘makara’ yang ganas dapat diambil dengan mudah, sementara itu ular-ular yang marah akan menjadi karangan bunga yang menghiasi kepala, tidak demikian halnya orang yang berhati jahat, ia durhaka, dan sangat sukar melepaskan sifat jahatnya itu.
17. Chatra stambha ya tejaning rawi mawas katahenani panasniradbhuta,
byakta ng we wenanganya yan mamejaheng apuy atisaya diptakojjwala,
matta ng naga tan angkusamatehaken, lara sabhaya si tamba panghreta,
ndan ring murka jugeki tan hana pakosadha ng amateha dadya mardawa.
PayUng dapat menahan sinar matahari, betapapun juga terik cahayanya, tentu air dapat memadamkan api, betapapun juga berkobarnya, gajah yang ganas dapat dirubuhkan dengan senjata pengikat, penyakit yang berbahaya dapat disembuhkan dengan obat, namun seorang pemarah tidak ada obatnya yang dapat menyembuhkannya supaya menjadi tenang.
18. Tiksna ng pawaka mogha tang salabha mungsira ri ya sahajan paweh suka,
munggwing panjara towi tang papikat asrang inusinikang arja paksika,
wetning hyunya manangsaye hayuni sabdanika lalita komalanulus,
keket ring wekasan tekapning atiharsanika karananin kaduhkitan.
Cahaya api dicari oleh anai-anai karena ia mengira akan mendapatkan kesukaan, burung pemikat dalam pasangan dengan penuh semangat dikunjungi oleh burung-burung itu, karena dikira membahagiakan, karena keinginan yang kuat pada suara yang halus, hilanglah kecurigaannya, akhirnya ia terjerat karena keinginannya yang begitu keras menyebabkan kedukaan.
19. Tadwat mangkana tang samasta-jana tan dadi wenanga dhumarana ng manah,
dening raga lanangiket lewu subaddha ri hatinikanang sarat kabeh,
hetunyan mapageh keta ng mada wimoha manah atisumok nirantara,
byaktangde wiparita tan wurung anutaken iki ri sasestining hidep
Seperti itulah orang pada umumnya apabila tidak dapat mengendalikan pikiran,
karena nafsu begitu kuat mengikat hati orang-orang pada umumnya,
menyebabkan munculnya kemabukan dan kebingungan begitu kuat berstanakan dalam hati dan memenuhinya tidak hentinya,
itulah sebabnya orang menjadi bingung tidak urung senantiasa mengikuti kehendak hatinya.
20. Hingayan lalu saktining hyun iki yan linagan, ing apa denya kongkaba,
yapwan pinrih ilangnya manghilangaken tutur amuhara soka mohita,
yan sinyuh magawe prapanca niyatangdani turida manguncanging lutut,
yan winwang iniwo makin pinaka wisti pinaka hawaning kapataka.
kekuatan pikiran itu tidak ada batasnya, bagaimana dapat diperangi, lalu bagaimana dapat dikalahkan, kalau ingin menghilangkannya artinya juga menghilangkan kesadaran akhirnya menyebabkan kesedihan dan kelesuan hati, kalau dihancurkan menyebabkan pikiran bingung selanjutnya menggoncang kegairahan hati, kalau dipelihara semakin menyebabkan derita sebagai jalan menemui neraka.
21. Karmendriyeka maka manggalaning swacitta,
karmendriyan pinaka marga mamisreng suksma,
ndan sang huwus wruh i panuksmanikan ya mangka,
yeka matangnya ginga prihaken cinitta.
Karmendriya sebagai manggala pikiran sendiri karmendriya pula sebagai jalan menemui hyang suksma, maka orang yang telah mengetahui hakikatnya seperti itu, itu sebabnya senantiasa diyakini dan terus dipikirkan
22. Wwanten wretatwa wekasang paramatiguhya,
byaping pradhana pada litnika tanpa hingan,
tan dwa wibhajya bahubheda mawreddhi-wreddhi,
nyang pancawingsa saha catwariwingsa tattwa.
Ada ajaran tatwa yang menjadi hakikak pengetahuan utama PRADANA yang sangat halus sangat kecil tanpa ukuran, selanjutnya pecah menjadi berbeda-beda dan berlipat ganda, menjadi 25 (dua puluh lima) tatwa dan 24 (dua puluh empat) tatwa.
23. Yeka nimittanikanang sahaneng triloka,
sthuladi tattwa katekeng dwidasangga tattwa,
mwang bhuta panca kalawan lima matra tattwa,
anghing rwa hetunika yan paripurna nitya.
Itulah yang menjadi sebab segala yang ada di tiga alam ini, benda-benda kasar sampai pada 12 (dua belas) tatwa yang lain, 5 (lima) unsur dasar (panca maha bhuta) dan 5 (lima) unsur yang halus (panca tan matra), namun dua yang menjadi sumbernya yang senantiasa sempurna.
24. Ring pancabhuta guna len lima matra siddhi,
25. mangde wikalpa hana ring hati lot humandel,
lilamangun turida raga lulutnikang twas,
harseng katon sakarengo kaharas tekapnya.
Di dalam PANCABHUTA terdapat GUNA dan 5 (lima) matra (PANCA TAN MATRA) yang utama,
membuat hati bingung dan sangat sukar dihilangkan,
dengan senang membangun rasa asmara yang membelenggu perasaan,
terbelenggu oleh objek penglihatan, pendengaran dan penciuman.
25. Ngka yan pamreddhi wekasan tikang indriyartha,
karmendriyadinikahen wisayanya purna,
sarwesta sarwa wastu katenin hati mogha tresna.
Pada saat itu akhirnya berkembanglah INDRIYA itu,
KARMENDRIYA utamanya sempurna oblek indriyanya,
keinginan terhadap rasa, bau yang wangi dan wujud yang indah, dan segala benda menjadi melekat di hati dengan kuatnya.
26. Hinganya nirmala lawan malinatwa kirna,
munggwing swabhawanikanang dadi sarwajanma,
lumreng jagat mamenuhi lwaning andabhumi,
apan sira prabhu wibhuh nirakara ring rat.
Batasnya kesucian dan ketidaksucian menjadi kabur,
bertempat di dalam tingkah laku manusia dan semua makhluk, menyebar di dunia memenuhi segala tempat di bumi ini karena itulah raja yang sangat menguasai tiada bandingannya di dunia ini.
27. Mangka swajatinika kalih anopalabdhi,
kapwatisuksma sumilib ri manah tan imba,
durgrahya grehyaka wiceda mahaprameya,
ekaswabhawa sira karwa wibhinnapaksa.
Demikianlah sesungguhnya keduanya tidak dapat dilihat,
keduanya halus menyusup di dalam hati tiada bandingannya, tidak dapat diraba dan sangat gaib,
tidak dapat diketahui betapa ukurannya, keduanya sebenarnya satu, tidak dapat dipisah-pisahkan.
28. Himper wulan lawan ikang sasacihna drestannya,
tekihen wenanga len kahananya munggu,
yawat lanangemuki satmaka wighna saksat,
tawat tumut sumuluh ing sakalanda lumrah.
Bagaikan bulan dengan gambar kelinci tampaknya,
dapat keduanya berada di tempat yang berbeda,
kalau bulan terlindungi, seperti itu juga gambar kelinci,
kalau bulan menerangi alam semesta, demikian pula gambar kelinci ikut bercahaya.
29. Ndah mangkana ng hala hajeng gumelar haneng rat,
duran wiyoga saka ring patemunya karwa,
munggwing trikaya kawangun tekaping swacitta,
solah sasabda samanah maka sadhananya.
Demikianlah kejahatan dan kebaikan tergelar di dunia, keduanya sungguh sangat sukar dipisahkan karena ia menyatu, ia dibangun oleh TRIKAYA (kaya, wak, manah: perbuatan, perkataan dan pikiran) yang berasal dari dalam diri manuasia sendiri: perbuatan, perkataan dan pikiran sebagai jalannya.
30. Yeki ing tri hetukanikang umusir yamanda,
yapwan sininghitakening hala karmikangde,
yeking tri hetuning amangguhaken triwarga,
yan singhiting hayu ng ulah ginawe pwa nitya.
Inilah tiga hal yang menyebabkan orang terjerebab ke neraka, yaitu bila cenderung berbuat kejahatan, akibat dari hukum karma, namun tiga pula sebab orang menemui TRIWARGA (dharma, artha, kama: kebajikan, kekayaan dan kecintaan), yaitu kalau senantiasa berbuat kebaikan.
31. Anghing trikaya paramartha wisuddha marga,
ambalnikang pada wimoksa niratma misra,
nahan matangnya dina ratri ya tolaheka,
rapwan tumemwaken awakning acintyatattwa.
Namun tri-kaya pula yang menjadi jalan utama dan suci, yang menyebabkan orang mencapai moksa (kebahagian tertinggi) dalam persatuan dengan Sang Pencipta. Itulah sebabnya usahakanlah siang malam, agar dapat bertemu dengan Ia yang berbadankan ACINTYA.
32. Nghing durlabha dahaten ikang trikaya pagehanya wimala satata,
sangkeng hala ta rusitikan pinet sthiti haneriya mangulahaken,
pohning paramarasa rahasya nugraha lanamenuhi maniluman,
tan matra kawenang yadin prihen lewu wilaksana siran inusir.
Namun sangat sukarlah untuk menjaga tetap sucinya tri-kaya tersebut, karena kejahatan sukar dipisahkan, ia berada di dalamnya dan menggerakkanya, sari rasa yang sangat rahasya dan sangat utama hadir bagaikan anugerah yang memenuhi perasaan, tidak sedikitpun didapat sekalipun sangat diusahakan, karena tidak dapat dijangkau.
33. Pujarcana sahana widhikriyasrayakenanta pinaka sarana,
mwang dhyana saha japa samadhi yoga pangupaya sakala regepen,
tan byakta tika karananing tumemwa wekasing parama kasugatin,
yan tan wruh i patitisi sandhining samaya nisphala sahanika.
Puja, upakara upacara dan segala persembahan dilakukan sebagai sarana pemusatan pikiran, japa/zikir, samadhi, yoga menghubungkan diri terus menerus diusahakan pelaksanaannya,
namun semua itu belum menjadi jaminan ditemuinya hakikat kesempurnaan yang utama,
kalau tidak mengetahui hakikat “pusat pertemuan” (SANDHINING SAMAYA), maka semuanya akan tidak berguna.
34. Apan sahana hanikang prayoga pinakesti sira juga tedun,
ndah mogha mawaka rikang anggego smreti tekasunga wara kahidep,
tan wruh yadi sira hana ring swabhawa tineleng milu manelengaken,
nir sadhana sira maka sadhaneng hayu sadanilib ing angen-angen.
Karena semua bentuk yoga bertujuan untuk memuja dan menurunkan Beliau,
Beliau manunggal dengan ia yang melakukan pemanunggalan ingatan,
Beliau juga memberikan anugrah, namun Beliau tidak dapat dengan mudah diketahui, karena Beliau berada pada semua yang ada, Beliau dilihat sekaligus melihat,
Beliau tidak memerlukan sarana, namun menjadi SADHANA menuju kebahagian, Beliau senantiasa tersembunyi di dalam pikiran.
35. Lwir bahni wekasing atisuksma tan sipi haneng kayu-kayu sahana,
ndah yan tutuhana wadungen pajun kapana yann umijila ng anala,
nghing yan wruhanikanang anguswaken lalu sawega lekasanikahen,
byaktotpadanikang apuy dumagdhakena wreksa pinenuhan ika.
Bagaikan api yang sangat tersembunyi dalam semua kayu yang ada, sekalipun dibelah dengan kapak, mustahillah api itu akan keluar, namun kalau orang bisa menggosok dua potong kayu dengan cepat dan tetap, tentu api itu keluar, lalu membakar kayu itu sampai habis.
36. Iwa mangkaneki gati sang hyang umibeki samuhaning dadi,
ya mawak pawak ya ginawe gumaway ikang acintya niskala,
sasinadhyaning tapa masadhya ring angulahaken siwarcana,
hana tan tumut tuwi tumut ta ya raket i sapolahing sarat.
Demikianlah keadaan Beliau yang memenuhi dan ada di dalam semua makhluk,
Beliau meliputi dan diliputi, beliau yang dibuat namun membuat, yang Acintya dan Niskala (tidak dapat dicapai oleh pikiran dan indra),
Beliau menjadi tujuan para pertapa yang menyembah Hyang Siwa, Beliau ada, turut namun tidak turut, dan menyatu dalam semua perbuatan seantero jagat.
37. Ring apan kawastwan i siran grahana tuhu widehalaksana,
ya matangnya durgama kapanggihanika tekaping mamet hayu,
numeneng nda tan wenang atarka ri karegepaning samangkana,
katunan tutur hidepikan lebar abalika wreddhyaning lupa.
Kapan Beliau dapat dibayangkan atau diraba,
karena Beliau sungguh tak berwujud, itulah sebabnya sangat sukar Beliau ditemui oleh orang yang berbuat baik sekalipun, diam tidak dapat dirasakan pertemuan itu, hilangnya kesadaran, bebas dari ingatan, namun memekarnya ketidakingatan (pada objek indria), ketika itu Beliau ditemui.
38. Asing ulahanikang wwang tan byaktanya kinatayan,
padanira hana ri ngka lwir maya taya tinuduh,
ya karananira sang wruh nir tang sadhya telengana,
smretinira juga langgeng nimnajnana suci sada.
Apa saja yang dilakukan orang tidak akan terwujud tanpa Beliau, kehadiran Beliau di situ, bagaikan bayangan yang tidak diketahui datangnya, itulah sebabnya orang yang telah mengetahui apa yang menjadi pemusatan pikiran, teguh ingatannya kepada Beliau dalam keadaan pikiran yang senantiasa suci.
39. Ri henengikanang ambek tibralit mahening aho,
lengit atisaya sunya jnananasraya wekasan,
swayeng umibeki tan ring rat mwang deha tuduhana,
ri pangawakira sang hyang tatwadhyatmika katemu.
Ketika hati tangah “HENENG” (tenang), sangat halus, hening (bening) dan cemerlang, teramat halus dan sunya, akhirnya pikiran menjadi sempurna tanpa ikatan, pikiran bagaikan meliputi seluruh jagat, tiada diketahui lagi asalnya, pada saat seperti itu SANG HYANG TATTWADHYATMIKA ditemui.
40. Ndan i huwusira mangka sang sampun kretasamaya,
tri mala malilaing ing cittangde suddha tanu sada,
lara pati puteking twas ndin sandehan ika kabeh,
gesengi manahirapan rudratma sakala wibhuh.
Setelah hal itu tercapai, setelah hakikat tujuan ditemui, TRIMALA (tiga kotoran) yang menyelimuti pikiran menjadi suci nirmala demikian juga badannya selalu suci, sakit, kematian, duka cita, bagaimana ia takut kepada itu semua, semuanya telah dibakar dalam pikiran, karena ia telah menjadi Rudra yang nyata di dunia.
41. Mangkana rakwa sang telas anemwaken pada wisesa guhyasamaya,
tan mangawastha tang hidep amisra suksma ri bhatara satmika lana,
lingga manahniran sthiti mangekadesa madeg ing Śiwalaya-sada,
saktinirapremaya hibeking jagat juga maweh sukapratihata.
Seperti itulah orang yang telah menemui persatuan gaib yang utama, pikirannya teguh dan tenang dalam persatuan dengan HYANG SIWA, persatuan yang lama, hatinya teguh bagaikan lingga, senantiasa tegak menyatukan jagat di bawah kekuasaan Hyang Siwa, kesaktiannya tidak ada bandingannya, meliputi seluruh jagat, dan memberikan kebahagian yang abadi.
42. Na lwiri sang tepet manemu yoga sandhining acintya sasmreti sada,
tan swasarira kewala wisuddha nirmala tekaparatmaka kabeh,
swartha parartha sadhyanira tan wurung mudani harsanging parahita,
yeka panihnaning sakalamurti sang hyang apagoh umandel i sira.
Seperti itulah orang yang telah dengan tepat menemui jalan persatuan dengan HYANG ACINTYA, dengan ingatan yang tetap dan teratur, tidak hanya dirinya sendiri yang suci nirmala, namun seluruh masyarakat luas, kepentingan orang lain adalah juga kepentingan dirinya sendiri, tak hentinya ia memberikan kebahagiaan kepada masyarakat luas, itulah tandanya secara nyata Hyang Siwa berwujud, dan teguh berstana dalam dirinya.
43. Len hana nista madhya lawan uttama pada kininkining hayunika,
mwang karananya mentasa sakeng aweci musira ng sukadhikapada,
yan mulating paranemu suduhkitalara dahat hidepnira tumon,
ri wruhi tanpa bedhanira mulaning bhuwana jati tunggal ikahen.
Apa yang disebut nista (bawah) madhya (tengah) utama (atas) sama di dalam pikirannya, demikian juga jalan melepaskan orang dari neraka menuju kebahagiaan diperhatikannya, ia sangat menaruh perasaan kepada orang yang ditimpa penderitaan, karena Beliau mengetahui hakikat yang ada adalah satu tidak ada bedanya.
44. Tan mangka janaloka buddhi winangunya tang amuhara treptining hidep,
ndan bwat dwesa gatinya ring paraguna, swagunga juga lewih wuwusnika,
gongning dosa hinotakenya ri sarira kinekesika tan kaniscayan,
anghing yan hana dosa matranikanang parajana winulik winarnana.
Tidak demikan halnya kebanyakan orang yang hanya ingin menyenangkan dirinya sendiri, ia sangat tidak senang terhadap kemampuan orang lain, kemampuan dirinya sendiri sajalah yang dipujinya, dosanya yang besar disembunyikan dalam dirinya sehingga tidak diketahui orang lain, namun kalau ada kesalahan orang lain yang hanya sedikit, itu dicarinya dan dibesar-besarkannya.
45. Lyan tekang hati tustacitta ri sedengnika n umulati duhkaning waneh,
irsyeng wang tumemu ng sukanalah ulah karananira manemwa duhkita,
nindyeng sadhu mahardhika manah anindya winaling agawe kaduskretan,
gongning krodha madeg yadin calana, henti sumukitanikan hinastawa.
Lain lagi hatinya sangat senang apabila orang lain dalam keadaan ditimpa kesusahan, dia iri kepada orang yang menemui kebahagiaan, malah berusaha untuk menjerumuskannya ke jurang kedukaan, ia senantiasa mencela orang-orang suci dan orang-orang berbudi mulia, ia ingin agar mereka tidak menemui kebahagiaan, namun ia sangat marah kalau dicela, sangat merasa bahagia kalau disanjung.
46. Tang tunggal mara sampaying nara wumurka tumaya taya ring huwus mahan,
nirsandeha cumodya solahira sang jenek angulahaken kasatwikan,
yeku bhranta wimudha janma tang amet hyang aputeran aneka laksana,
lesyanyan turunging wruh ing gati nahan pangucapira mangalpanika lwero.
Tidak satu caranya untuk menjerumuskan orang, menghina orang, ia meniadakan dan mengolok-olok orang-orang bijaksana, tiada malu ia mencela perbuatan orang yang dengan tetap pendirian menegakkan kebenaran, “orang-orang seperti itu adalah orang-orang bingung, orang-orang bodoh yang mencari Sang Pencipta dengan berbagai cara dan bersusah payah, apalagi alasannya karena belum mengetahui hakikat tujuan yang sejati “, demikian katanya menghina dan dengan bangga kepada dirinya.
47. Ndah mangkambekikang satagelem apet ring analahi ng ulahnya nityasa, lobhe dhih umaku wisesa tinemunya ri turunging acihna ring praja, ndan sabdanya jugalepas lwiraniki ng kalilingan atikadbhutapatuk, anghing tan kawenang miber sthiti haneng kuwungika ri wipaksaning tanu.
Demikian pikiran orang yang senatiasa mencari kesalahan orang lain, dengan loba ia mengakui dirinya yang paling hebat, padahal belum ada buktinya dalam masyarakat, kata-katanya memang terdengar hebat, bagaikan suara burung kalilingan yang patuknya sangat besar, namun ia sendiri tidak bisa terbang, ia diam saja di sarangnya, karena tidak mampu terbang.
48. Nistanyan pwa ya mangkana ng gati taman surud anekani sestining hati,
tan sengeh yadin asyana ng para tekapnikan awedi kasoran ing naya,
wetning hyunya pujin stutin ya lingika ng bhuwana lepasa dengku tan wurung,
simbantenn iki yan makarya ya jugan winawanika ri tambragomuka.
Singkatnya seperti itulah jadinya orang yang tidak hentinya menuruti keinginan, ia tidak memperdulikan tudingan orang lain, karena ia takut dikatakan kalah pintar, karena ia ingin dipuji dan dihormati, maka ia berkata, “Dunia ini akan saya selamatkan, sudah tentu”, jangankan ia mampu (menyelamatkan dunia), malah dia sendiri akan terjerumus ke dalam jurang neraka.
49. Tang mangkambek munindratisaya nipuna ring sarwa tatwopadesa,
tan sangkeng lobha yar sorakeni sahananing loka kapwapranamya,
sangka ry asihnira ng hetunika pada musap jong lananghyang masewa,
warsajnanopasantanirami manahanikang rat dumeh harsacitta.
Tidak demikian pikiran seorang MAHA PANDITA yang telah matang dalam segala ajaran tattwa, bukan karena loba hatinya kalau beliau ditempatkan lebih tinggi dan dihormati oleh masyarakat, namun karena penuh kasihlah beliau kepada masyarakat menyebabkan beliau dihormati dan senantiasa dihormati, dijadikan guru, bagaikan hujan yang menyirami hati masyarakat luas dengan jnana, kesabaran hati memberikan kebahagiaan.
50. tekwan tan sangka ring pintanika ri datenging sarwa ratnopakara,
wetnyatyanteng mahasiddhinira kumawaseng rat taya ng langghaniya.
Adapun bukan karena permintaannya apabila berbagai permata dan yang lain datang kepadanya, karena sangat tinggi dan sempurna pengetahuan beliau, sehingga beliau dapat menguasai jagat dan tidak ada yang mengalahkannya.
51. Apan prajna suluh sang yatiwara masawang bahni candrarka dipta,
ring wahyadhyatmika ng angga rinadinanira ng satru yangken peteng sok,
dhyasteka nang tamahninh hati sahannikang papa len klesa sirna,
lila-lilan pangicchen bhuwana tekapikang jnana saktyaniwarya.
Karena pengetahuan suci merupakan suluh bagi sang pandita, bagaikan cahaya api, juga cahaya matahari dan bulan, di dalam dirinya yang tampak maupun yang tidak tampak dikalahkannya segala musuhnya yang bagaikan gelap gulita hilanglah kegelapan pikitrannya (tamah), segala kenestapaan (papa) dan kekotoran (klesa) menjadi musnah, dengan penuh kebahagiaan beliau membuat bahagianya dunia dengan kekuatan JNANA yang besar.
52. Samangka tingkahnira sang huwus mahan, mahojjwaleng jnana lumon prabhaswara,
prabhaswareng rat supenuh nda tan katon, katon tikang wastu susuksma denira.
Demikianlah perbuatan orang yang telah mencapai kesempurnaan jiwa, jnana bagaikan api yang berkobar-kobar, bercahaya cemerlang, cahayanya memenuhi jagat, namun tidak terlihat, hanya terlihat wujud yang sangat halus nan indah.
53. Nirantarathatwa mapinda tan luput, luput ring angga mwang ing anda yan pinet,
pinet maner ing hati muksa tan hilang, hilangnikamisra mawor nda tan pawor.
Sesuatu yang abadi terus berkumpul di dalam dirinya tidak salah lagi, namun bila ingin mendapatnya di dalam diri dan di tempat lain di dunia, tidak akan di dapat, namun dia HARUS DICARI DI DALAM HATI, walaupun bagaikan tidak ada, sesungguhnya tidak hilang, hilangnya karena bersatu, namun tidak bercampurbaur.
54. Pawornikeng atma makeka ring tutur, tutur sadakala sunispreheng sarat,
sarat hilang mwang ri hidep maluy malit, malit sangkeng litning acintyaniskala.
Persatuan dengan ATAM adalah dalam kesadaran (TUTUR), kesadaran yang terus menerus menyebabkan dapat melupakan jagat, hilangnya jagat menyebabkan batin menjadi kecil dan halus, yang kecil dan halus dari Acintya yang tak terpikirkan.
55. Kalah tikang sadripu sirna denira, niragraha citta wisuddha nirmala,
malanaput tanpa napel kawes humur, humur dumohi wisayanya nityasa.
Keenam musuh dalam dirinya kalah dan musnah pikirannya tetap suci nirmala, kekotoran yang menyelimuti telah habis tidak berbekas, obyek indria senantiasa juga makin menjauh.
56. Makantya tekana ginuhya ring hati, atita ring kirya kabeh ya nisphala,
phalanya tan matra kasinghiteng manah, manah sumimpen ri huwusnya nirnaya.
Segala yang MULIA terus disimpan dalam hati, semua perbuatan yang lalu kini tidak berpahala lagi, pahalanya yang sedikit tersimpan di dalam hati, pikiran pun tersimpan setelah tiadanya keinginan.
57. Ya samangkana rakwa lekasira sang uttama diwyayati,
ginelarnira sang guru panganumateng kami mudha dahat,
wiphalan kadi dipa sumeleh atidipta tibeng jaladhi,
temahanya padem kakelem i petenging hati lot wipatha.
Seperti itulah keadaan orang yang utama dan mulia, diuraikan oleh guru hamba, kepada hamba yang sangat bodoh, tentu tidak berguna, bagaikan lampu yang bercahaya jatuh ke dalam samudra, akhirnya tentu padam bagaikan tenggelam di dalam gelapnya pikiran yang berada di simpang jalan.
58. Lwirning wadhaka saktining wisaya satru jaladhi sama kirna tar surud,
rwabnyandurbalani swacitta mawetu ng karaketan i temahnya ring sarat,
na hetungkwa n umura karwa lepihan teher akemula kresna jirnaka,
wetnung tan sipi duhka mangdasaguneng bapa ri pangataging pura-kreti.
Bagaikan rintangan kekuatan obyek indria, bagaikan musuh berwujud samudra dalam keadaan pasang, air pasang itu menyeret pikiranku ke dalam kesulitan, karena menyebabkan pikiranku terbelenggu oleh jagat, itulah senabnya hamba pergi membawa KITAB INI yang berselubung kain hitam yang sudah robek, karena sungguh sangat sedih hati hamba karena tidak memiliki keberanian dan keiklasan hati untuk melaksanakan perintah bapa (guru) yang tengah berada di istana.
59. Nahan hinganikan palambang atidurlikita wigati tar wenang lingen,
ndan sing sabda riniptaken teka ng ujar sarinapini winorku ring rasa,
bhrangtajnananiking pitanuluyi putra sawuwusika tulya bhasmaran,
tustengwang yadin asyana ng para sadenya cumacada linampuning hulun.
Demikianlah karya tulis ini sangat buruknya sehingga tidak dapat dibicarakan, sembarang kata yang hamba tulis, sampai dengan kata-kata yang penting telah hamka campur dengan rasa, pikiran hamba bingung, sehingga bapa memberikan penerangan kepada putranya dengan kata-kata yang penuh makna, hamba menjadi senang, sekalipun hamba ditertawai lalu dicela hamba menerimanya dengan tulus hati.
60. Tekwan tan wihikan gatingku ri rusit-rusitin akawi punya kirtiman,
nghing sinwinutusing yayah medarena katiwasanira nitya kasmala,
hetungkwanis anuksma mogha maparab wedi katengera cihnaning hulun,
erang ngwang sthitihen pradesa juga tan maluya wekasing nirarthaka.
Lagi pula hamba memang tidak mengetahui seluk beluk membuat karya sastra persembahan, namun hamba diperintah oleh bapa hamba untuk menguraikan kesengsaraan orang yang berpikiran kotor, itulah sebabnya hamba pergi ke tempat yang sepi, memakai nama samaran, takut diketahui diri hamba yang sesungguhnya, hamba merasa malu, maka hamba tetap tinggal di tempat itu, dan tidak akan kembali sampai akhir hidupku.

1


Share:

BAKPIA

 Nyesel baru tau cara ini ternyata buatnya sangat mudah dan hasilnya gak jauh beda dengan aslinya

https://youtu.be/su73LvjkHSs?si=Nsr6w5PXBWMb3Nnd
Share:

PPH PASAL 21 TERBARU

 

tutorial pph 21 ebupot sub unit

https://youtu.be/-ngKiZ6zA54?si=fY6SS7V8kZxs77jD

 

Input NTPN Sub Unit Pajak

https://youtu.be/AWhsZadDu94?si=hoGhf_ePyC5pJIgP

 

Menghitung Pajak Penghasilan PPh 21 terbaru tahun 2023 #pph21

https://youtu.be/j9_FezE9jpc?si=ReEs5NXOZFQmtUkd

Share:

EFIN PAJAK

 

Mudah Sekali Mendapatkan Nomor EFIN secara Online 2024 || Permohonan EFIN PAJAK Melalui Email 2024

https://youtu.be/AJYiLXgRCDc?si=VL4inniZLL4AiM8M

Share:

IBU

 


IBU

 

Matrdevo bhava pitrdevobhava

Acaryadevo bhava atithidevo bhava.

(Taittiriya Upanishad.I.11)

(Seorang ibu adalah dewa, seorang bapak adalah dewa, seorang guru adalah dewa dan para tamu pun adalah dewa).

Ada 5 Ibu yang wajib dihormati:

1.Deha Maatta:

Ibu yang melahirkan kita.Tuhan tidak akan memberikan anugerah pada orang yang tidak berbakti kepada Ibunya.

2.Deva Maatta:

Tuhan sebagai ibu yang dengan  penuh kasih menuntun kita mengarungi dinamika kehidupan.

3.Veda Maatta:

Sabda suci Tuhan yang berisi berbagai tuntunan hidup.

4.Bumi Maatta:

Ibu Pertivi, bumi ini tempat lahirnya manusia, hewan dan tumbuhan.

5.Desa Maatta:

Tradisi yang bersumber dari kitab suci sebagai ibu umat manusia.

Om Jay Maa 🙏

Share:

XERO UK

 

Xero Tutorial - Part 1 - Introduction & Getting Started #xero #course

https://youtu.be/-uIXEh_vYKQ?si=SosOlto1dPeGcSRt

 


Xero Course - Part 2 - The Chart of Accounts #xero #course

https://youtu.be/b1y7Kh2Bldk?si=EeAXxI3vOQ3-rrtK

 

Xero Training Tutorial - Part 3 - Adding & Editing Accounts #xero #course

https://youtu.be/voIydY2529I?si=4a5xADXxhmH13NO2

Xero Training Course - Part 4 - Adding Customers (Contacts) #xero

https://youtu.be/-afxuPEiBYM?si=px7rGJ8vVEaz3CH6

https://youtu.be/tijSJao4rjk?si=MXNHyUneEW3CShVk

https://youtu.be/tijSJao4rjk?si=2T3BmtuyzmYgVUIg

Xero Basics Course - Part 5 - Viewing & Editing Customers (Contacts)

https://youtu.be/-afxuPEiBYM?si=SyWQGDH5huX6f8YV

 

Xero Basics Course - Part 6 - Adding & Editing Sales Invoices (Customer Invoices) #xero #course

https://youtu.be/e-8K8mQ--Go?si=Y2ythZtYrgBqUAvZ

Xero Basics Course - Part 7 - Adding Suppliers

https://youtu.be/EN2hIXQHVg4?si=beboqfP6HVLF7322

Xero Tutorial - Part 8 - Recording Supplier Invoices

https://youtu.be/JGIcajPot28?si=_ot9PLiK0WHzYydr

Xero Tutorial - Bank Accounts - Part 9

https://youtu.be/ZIcn75b6Wzs?si=6lRW_IxqD-EmzWWq

Recording Customer & Supplier Payments - Xero Course - Part 10

https://youtu.be/ebuRSUDbWbk?si=cL7Y5CoNPIfv7D6K

Recording Money In and Money Out - Xero Tutorial - Part 11

https://youtu.be/6WgA67Jb85Y?si=TrtmZahLsV9O7Pjp

How to do Bank Transfers on Xero - Xero Training Course - Part 12

https://youtu.be/95CU5l43PRU?si=zPB4TCVqegCoc-LG


How to Create Budgets in Xero

https://youtu.be/29kXCm2Zl9o?si=LQA3RWUH5BNs2wJG


Depreciation in Xero: A complete guide for beginners

https://youtu.be/CxDhBfH544I?si=Nrw8JgUcUllPTxNE

 

Depreciation in Xero: A complete guide for beginners

https://youtu.be/CxDhBfH544I?si=LTi6M1XyEhQ2x-Ux

Share:

TILEM KE SANGA




 NYEPI TILEM KESANGA

Mari kita tengok isi dari lontar aji swamandala yang dipake rujukan sehingga hari suci Nyepi digeser dari Tilem Kesanga ke Penanggal Apisan Sasih Kedasa ;
"Nyan Sang Hyang Aji Swamandala, hangajaraken hala-hayu, lwirnya mahayu, paryangan we rahayu, yan hanambut karya, lwirnya makiis, mancawalikrama, YAN NUJU TILEMING CETRA, husan ukun Galungan, baneh, Bu, Ka, Pahang, haja nggalaraken Tawur Sanga, yan durung Pegatwakan Paang, yanambahin tan sida karya, Dewata malalis, Dewa moktah, hika tka wenang, yan kalangan bwat wenang ring TILEMING KADASA PANUTUGNYA, pangasangayanika, haja lyanin, ngingan pangaksamanya maring Widi, ring Hyang Basukih, reh gumi kalangan. Mwang ring Hyang Bhairawi Durga, ngaksama saluwirnya, upakaranya, mabanten tumpeng guru, peras penyeneng, daksina, tunggal upakaraniya, katur ring Basukih."
"Yan hana huwang hamuja tawur, ya durung masalah wuku Pahang, yan MANUJU TILEM KESANGA wusan huku Galungan, Dungulan, nganeh huku Pahang, palaniya candala ikang rat."
Terjemahannya:
"Inilah Sang Hyang Aji Swamandala mengajarkan tentang baik dan buruk, seperti memperbaiki parhyangan, hari baik bila menyelenggarakan karya, seperti makiis, mañcawalikrama, jika tilêm cetra jatuh sesudah wuku Galungan, sebelum, Budha, Kliwon, Pahang, jangan melangsungkan Tawur Kesanga, sebelum Pêgatuakan Pahang."
"Bila hal itu dilaksanakan, karya tidak akan berhasil, para dewata akan pergi, dewa menghilang. Bila ada halangan berat, ritual Kasanga (pangasangan) tersebut dapat dilaksanakan pada Tilêm Kedasa sebagai penyelesaiannya. Jangan yang lain. Tetapi itu dengan diadakan permohonan ampun kepada Sang Hyang Widhi di Besakih, karena masyarakat berhalangan, dan kepada Hyang Bairawi Durga, mohon ampun dengan segenap upakaranya yaitu mempersembahkan bantên tumpêng guru, peras penyeneng, daksina. Upakara itulah hanya satu dipersembahkan di Besakih."
"Bila orang mempersembahkan tawur, sebelum pergantian wuku Pahang, pada waktu MENUJU Tilêm Kasanga, sesudah wuku Galungan, Dungulan, sebelum Wuku Pahang, dunia akan rusak."
(Lontar Swamandala)
Dapat disimpulkan atau ditafsirkan bunyi lontar swamandala diatas adalah ;
• Pertama, tidak spesifik menyatakan tentang tawur kesanga yang ada kaitannya dengan Nyepi.
• Kedua, tawur tilem kesanga yang dimaksud adalah tawur pada sasih kesanga menuju tilem kesanga.
• Ketiga, tawur tilem kesanga dapat ditunda pelaksanaannya apabila jatuh pada saat uncal balung sampai usainya uncal balung pada sasih kedasa.
Sekarang mari kita tengok beberapa lontar yang menyatakan sangat jelas bahwa Nyepi wajib dilaksanakan pada Tilem Kesanga bukan pada penanggal apisan sasih kedasa dibawah ini ;
"....Mwah Tika Tilem Kasanga, Ulun ginawe Yoga, Tka wnang wwang ring madya, ginawe tawur swang, Nyepi sadinten, den ana pranging sata, ya bala pan Sangkala Bhumi, Yan Nora mangkana , rugwwanging madya..."
Artinya :
"Ketika datang Tilem Kesanga, dimana Aku sedang beryoga, wajib setiap manusia di dunia, menyelenggarakan TAWUR dan NYEPI sehari penuh, dan ada sabung ayam untuk abdi Sang Kala Bumi, Jika tidak seperti itu, Kacaulah dunia..."
(Siwa Tatwa Purana, 16b)
Lontar diatas sangat jelas dikatakan bahwa Bhatara Siwa meyoga saat Tilem Kesanga (bulan mati/gelap penuh).
Kemudian lebih lanjut dikatakan dalam lontar Sundarigama sebagai berikut :
".....Atka ring cetramasa, ring tilem kunang, pasucen watek dewata kabeh, an ring teleng ing samudra camananira ameta sari ning amreta kamadalu, yogya wong kabeh ngaturaken puja kreti, ring sarwa dewa kramanya, ring catur dasi kresnapaksa agawekna bhutayajna, rikeng catuspata ning desa, nistanya panca sata, madya panca sanak, uttamanya catur agung, yamaraja, pinuja dening sang mahapandita, siwa budha...."
Artinya :
"Pada saat bulan mati masa kesembilan (Tilem Kesanga) tiba merupakan hari baik bagi para dewata menyucikan diri. Adapun tempat mereka menyucikan diri adalah di tengah samudra dengan mengambil intisari air suci kehidupan Kamandalu. Pada saat itu manusia wajib pemujaan kepada para dewa. Pada saat paroh gelap ke empat belas (panglong kaping pat belas), manusia wajib membuat upacara bhutayajna, bertempat di perempatan desa, mulai dari tingkat nista berupa caru panca sata, tingkat madya berupa caru panca sanak, dan tingkat utama berupa catur agung, yamaraja, dipimpin oleh pendeta agung siwa budha..."
(Lontar Sundarigama)
Begitu juga lontar Gama Tiga sangat jelas menyatakan ;
"Nihan, ring purwaning tilem kesanga, gaweyakna bhuta yadnya ring catur pataning desa......."
Disamping 3 lontar diatas ada juga termuat dalam lontar Tattwa Gama Tirta menyatakan hal sama bahwa Nyepi jatuh Tilem Kesanga (bulan mati/gelap penuh).
Keempat lontar diatas sangat jelas menyatakan bahwa tilem kesanga saat bulan paling gelap atau bulan mati/gelap penuh adalah hari yang sangat tepat bagi Ida Bhatara Siwa dan para dewata mayoga bukan untuk tawur kesanga.
Jangan sampai Ida Bhatara Siwa Mayoga di niskala kita malah melaksanakan pengerupukan di skala sehingga mengganggu keheningan yoga Ida Bhatara Siwa.
Dari 4 (empat) lontar diatas dapat disimpulkan sebagai berikut :
• Penyepian dilaksanakan pada tilem kesanga (bulan mati/gelap penuh) karena Ida Bhatara Siwa meyoga pada saat tilem kesanga (bulan mati/gelap penuh).
• Tawur Agung Kesanga dilaksanakan di Catus Pata pada panglong kaping pat belas (paroh gelap 14).
• Panglong kaping pat belas/14 sesuai dengan Catur Dasa Aksara yaitu Sang, Bang, Tang, Ang, Nang Mang, Sing, Wang, Ang, Ung, Mang, Ang, Ah, Ong sebagai Penelasing Aksara dalam 108 aksara dan juga penelasing wariga.
Angka 14 jelas sebagai signal kuat dalam perhitungan pada panglong kaping pat belas tilem kesanga. Dimana posisi Penelasing Aksara dan penelasing wariga adalah keseimbangan atau menempatkan bhuta sebagai dasar. Senada juga posisi planet dan tata surya lainnya secara keseluruhan tepat susunannya sesuai porosnya sehingga sangat tepat melaksanakan Tawur Kesanga yang bertujuan agar keseimbangan tetap terjaga di waktu yang sama di masa mendatang.
• Tawur Agung Kesanga wajib dilaksanakan tabuh rah di Catus Pata selain kurban kerbau dan binatang lainnya.
• Tawur Agung Kesanga wajib dipuput oleh Tri Sadhaka (Pandita Siwa, Pandita Siwa Budha, Pandita Siwa Waisnawa/Bujangga) merupakan gegelaran/konsep pemujaan daripada para Pandita Agung Siwa Budha ajaran Siwa Sidhanta sesuai lontar Sutasoma dan prasasti samuan tiga jelas menyatakan Siwa Marupa Budha sebagai pencipta segalanya.
• Apabila tidak dilaksanakan tepat waktu sesuai yang ditetapkan atau tidak melaksanakan maka akan berakibat kekacauan atau ketidakseimbangan alam.
Perubahan hari suci Nyepi dari tilem kesanga menjadi penanggal apisan sasih kedasa sepertinya dilaksanakan ketika hari suci nyepi diakui secara nasional. Padahal hari suci nyepi sebenarnya tidak ada hubungannya dengan pergantian tahun saka kalender Bali yang timbul dikarenakan ada usaha usaha memasukkan penanggalan kalender Nirayana India pada penanggalan Gama Bali.
Gama Bali (Hindu Bali) sesungguhnya tidak mengenal tahun baru karena makna "Wariga adalah Warah Ing Raga yang artinya petunjuk Tuhan (Weda) dalam diri". Wariga didalamnya tidak hanya ada penanggalan namun ada Sasih (penanggal & panglong), Wuku, Wewaran, Aksara, Tatwa dan lainnya berkenaan dengan Panca Yadnya.
Penanggalan Gama Bali (Hindu Bali) jumlahnya 35 hari dalam sebulan berbeda dengan tahun masehi yang hanya 30 hari dan siklusnya tak terputus berputar terus bagai perputaran bumi sebab wariga sama dengan Weda tanpa awal dan akhir.
Hal demikian juga diperkuat dengan jumlah sasih ada 12 sasih maka sangat jelas bahwa ajaran Bali tidak mengenal tahun baru seperti dihembuskan beberapa pihak bahwa jumlah angka 9 (sasih kesanga) adalah tertinggi oleh sebab itu mulai lagi dari 1 (satu) padahal setelah 9 (sasih kesanga) ada 10 (sasih kedasa) hingga 12 (sasih sadha).
Lebih lanjut lagi yang menguatkan bahwa tilem kesanga (bulan mati/gelap penuh) adalah waktu yang tepat bagi Ida Bhatara Siwa dan para dewata mayoga yaitu hari suci Siwa Ratri. Dimana Ida Bhatara Siwa mayoga saat tilem paling gelap yaitu Tilem Kapitu hal ini sama pengertiannya dengan Tilem Kesanga adalah bulan paling gelap bukan di penanggal apisan sasih kedasa.
Selanjutnya, mari kita melihat ke belakang sejenak merujuk sejarah ajaran Bali sejak Mpu Kuturan dengan prasasti samuan tiga konon tahun 1001 masehi. Jauh sebelum itu Bali sudah memiliki sebuah lembaga masyarakat adat semacam republik turun temurun mungkin juga berumur ribuan tahun yang dikenal dengan Sarbwa Kumpi Dyah Sanat dan pada jaman Mpu Kuturan diganti namanya dengan Pakirakiran Jro Makabehan.
Bahkan di Trunyan ada sebuah pura disinyalir dari jaman megalitikum (batu) dengan sesuhunan berstana disana adalah Bhatara Datonta. Sangat jelas lagi ketika ada pura tentu ada yadnya begitu juga ada hari odalannya dimana menggunakan wariga untuk menentukan upacara yadnya.
Sekarang, pertanyaan logika sederhana apakah Gama Bali mulai ada sejak tahun Saka 1945 ? jawabannya jelas TIDAK karena Gama Bali sudah berumur ribuan tahun. Nyepi berdasarkan Wariga Bali ajaran Gama Bali. Tahun Saka berdiri sendiri dan tidak ada kaitannya dengan Gama Bali yang lahir di Bali sementara tahun saka lahir di India.
Narasi pembenaran dan cocoklogi sangat kental agar hari Nyepi dapat digeser ke penanggal apisan sehingga terkesan ada hubungan dengan tahun baru saka Bali akibat merujuk pada tahun saka India hanya karena penanggalan tahun Bali tidak diketahui kapan mulainya.
Jangan sampai hanya karena Gama Bali diakui sebagai agama Hindu Bali pada tahun 1959. Lalu, selayaknya sebuah agama memiliki tahun baru kemudian mengikuti tafsir hindustan dengan perhitungan tahun saka India dan dipaksakan digeser pelaksanaan Nyepi menjadi pinanggal apisan sasih kedasa.
Konsep agama luar dan tafsir hindustan telah mempengaruhi ajaran Gama Bali seperti adanya salam, waktu sembahyang, konsep belajar, konsep pemujaan, filsafat dan lainnya agar sejajar agama lainnya. Sehingga Gama Bali (Hindu Bali) dalam pelaksanaannya menjadi tidak murni lagi bahkan jauh dari kebenaran Gama Bali (Hindu Bali).
Jadi, pelaksanaan tawur kesanga seyogyanya dikembalikan pada purwaning tilem kesanga (Panglong 14) dan keesokannya penyepian tepat pada tilem kesanga bukan pada penanggal apisan sasih kedasa.
Nyepi yang beberapa tahun terakhir jatuh pada penanggal apisan sasih kedasa wajib untuk DIKAJI ULANG dan Nyepi sama sekali tidak ada hubungannya dengan tahun baru saka karena sama sama berdiri sendiri.
Share:

Contact Us

Name

Email *

Message *

Search This Blog

Powered by Blogger.

About Me

My photo
My Name is NI NENGAH DESSI.I am a blogger.Female.I am a Balinese.Indonesia is my country.

SEGEHAN HARI RAYA NYEPI

  Kemarin banyak yang tanya Segehan yg 11tanding itu untuk dimana Ini saya share ulang yang lebih lengkap. ✓ Tri Mala Paksa, yaitu Bhuta Buc...