SARASAMUSCHAYA KEMATIAN

 



Kematian
365.
Jika ada seseorang dapat terbebas dari kematian dan dapat hidup abadi, ia boleh bermalas-malasan; sedangkan bagi mereka yang pasti akan mati dan tidak bisa hidup abadi apa gunanya bermalas-malasan.
366.
Waktu itu tiada batasnya, ia terus bergerak meski telah melewati ribuan putaran tahun; sedangkan hidup itu ada batasnya, bahkan seringkali dijalani dengan sangat cepat dan hanya dalam sekejap saja; sadar akan hal tersebut, apakah yang menyebabkan orang masih menyianyiakan waktu, mari manfaatkan waktu sebaik-baiknya untuk berbuat kebajikan.
367.
Sesungguhnya umur sekalian makhluk hidup itu teramat pendeknya, bahkan sebagian dari umurnya itu pada waktu malam dipakainya untuk tidur akibat kantuk; yang lain dilalui dengan penyakit, kesedihan, umur tua dan masalah-masalah hidup lainnya, akhirnya sangat sedikitlah masa hidup itu sesungguhnya.
368.
Semua makhluk terperangkap dalam siklus hidup dan mati, masa hidup mereka lewati dengan penyakit, usia tua, dan kesedihan; namun umumnya tidak banyak orang yang sadar akan singkatnya masa hidup itu.
369. Bukan karena obat, bukan karena doa, bukan karena kurban, dan juga bukan karena pengulangan-pengulangan mantra mampu membebaskan orang dari kematian; sesungguhnya tidak ada orang yang dapat terbebas dari kematian.
370.
Jika tidak ada instrospeksi diri setelah melihat orang tua renta, orang sakit, dan orang mati, dimana seolah-olah ia tidak akan berkeadaan seperti itu kelak; orang yang seperti ini tidak ubahnya dengan pecahan periuk atau batu bata.
371.
Walaupun lantaran saktinya seseorang dapat menguasai empat benua hanya dalam sekejap, namun ia tidak akan dapat menghindarkan dirinya dari penyakit, usia tua dan kematian.
372.
Waktu adalah tubuh dari sang maut kematian, detik, menit, jam, siang, malam dan pembagian waktu lainnya adalah organ-organ tubuhnya; wujudnya adalah penyakit dan usia tua, inilah penampakkan dari kematian. bagaikan ular menelan mangsanya, demikianlah kematian pasti akan menelan makhluk hidup jika sudah waktunya.
373.
Oleh karena itu, manfaatkanlah dengan sebaik-baiknya saat hidup ini untuk melaksanakan kebajikan dan kebenaran, sebab diusia tua demikian banyaknya hambatan (kelemahan fisik & penyakit) untuk melakukan kebajikan dan kebenaran dengan sepurna. Seperti keadaan orang tua renta yang masih bernafsu untuk berkelahi, lantaran kelemahan fisiknya ia akan jatuh bangun melakukannya; bagaikan srigala tua yang telah ompong ingin mengunyah tulang, sia-sialah usahanya itu dan ia hanya dapat menjilatinya saja.
374.
Kenapa orang selalu lupa bahwa ia akan mati pada akhirnya, bagaikan orang terhukum mati, hari-hari berlalu, semua akan membawanya semakin dekat dengan masa eksekusi; demikianlah keadaan makhluk hidup, saban hari waktu hidupnya semakin berkurang.
375.
Kematian tidak dapat ditolak dan waktunyapun tidak dapat diramalkan, oleh karenanya sangat kelirulah orang yang selalu mengulur-ngulur waktu untuk melakukan kebajikan dan kebenaran; kelirulah orang yang berpikir bahwa kebajikan yang seharusnya dilakukan hari ini akan dilakukannya esok hari.
376.
Sebab tidak ada yang dapat memutus hidup selain dari pada kematian, maka dari pada itu lakukanlah seolah dengan tergesa-gesa kebajikan dan kebenaran itu; bagaikan keadaan buah-buahan akhirnya ia akan jatuh juga ke tanah, demikianlah yang hidup pasti akan mati cepat atau lambat, maka percepatlah untuk melakukan hal-hal yang bajik dan benar dalam hidup ini.
377.
Kematian sudah ditetapkan waktunya oleh takdir Tuhan, walaupun terluka parah ia tidak akan mati jika belum takdirnya, sebaliknya jika sudah takdir, seseorang bisa mati walaupun hanya tertancap duri.
378.
Kesimpulannya, sekalian makhluk hidup diombang-ambingkan oleh kesengsaraan dan kematian; menyadari kenyataan ini, kenapa manusia masih saja melakukan kesenangan-kesenangan egoistiknya dengan menyengsarakan makhluk hidup lainnya.
379.
Sebab kematian itu senantiasa akan mengintai hidup kita, tidak perduli sedang duduk, tidur, berjalan, sedang makan dll. Menyadari kondisi ini kenapa kita masih enak-enakan tidur dalam kemalasan, bagaikan ikan dalam tempayan, hidupnya hanya menunggu mati.
380.
Bagaimanapun ‘pahit’ dan sulitnya hidup, mau tidak mau kita harus menjalaninya juga. Segala sesuatu yang merupakan karma haruslah dinikmati, hidup miskin kekurangan pangan, tuna wisma, tanpa pertolongan, bantuan dll, semua itu harus dijalani juga. Jika ingin merubah karma, lakukanlah kebajikan dan kebenaran mulai hari ini; sebab kelak ialah yang akan menemani hidup, sebagai kawan yang akan memberikan pertolongan setiap saat.
381.
Saat ajal tiba, isakan tangis sanak saudara dan kawan mengiringi; selanjutnya tiada siapapun yang menemani, bahkan pasangan hidup kitapun akan beranjak pergi dari kuburan, tiba saatnya kita berjalan sendiri saja dan hanya ditemani oleh karma bajik dan buruk saat hidup.
382.
Masa anak-anak hilang oleh masa remaja, keremajaan hilang oleh kedewasaan, kedewasaan itu hilang oleh masa tua, dan semuanya hilang ditelan kematian. menyadari ini, mulai sekarang bergiatlah untuk mulai menabung kebajikan dan kebenaran, sebab ialah yang merupakan harta diakherat.
383.
Kekayaan-kekayaan duniawi tidak akan dapat dipergunakan untuk menghindar dari penyakit, usia tua, dan kematian.
384.
Tidak kekallah keremajaan, kecantikkan, pun juga hidup ini; apalagi kepemilikan harta kekayaan, misalnya uang, emas, perak, pakaiaan dll, inilah yang harus diperhatikan oleh mereka yang bijaksana dan bebaskanlah diri dari ikatan-ikatan itu.
385.
Janganlah takabur akan usia muda yang sehat, jangan sombong atas berlimpahnya kekayaan yang dimiliki; hendaknya selalu waspada akan penyakit sosial dan kemiskinan moral, seperti kewaspadaan kita pada api, racun dan musuh.
386. Hendaknya inilah yang diwaspadai oleh para arif bijaksana: wanita jalang, lelaki hidung belang, para penjilat, manusia licik, kepikunan, tawaran kenikmatan, dan pada mereka yang hanya menghafal ilmu pengetahuan (doktrin agama) tanpa berusaha memahaminya dengan benar.
387.
Kodrat manusia tidak bisa lepas dari kesedihan, penyakit, usia tua, dan kematian; mereka yang cerdas menyadari dengan baik kenyataan tersebut dan tidak akan membiarkan dirinya diperbudak oleh kenikmatan-kenikmatan sesat, dan mereka yang bijaksana akan berusaha lepas dari kenikmatan-kenikmatan duniawi yang mengikat.
388.
Hidup bergantung pada badan, badan adalah tempat hidup; hidup menyebabkan badan ada; lenyapnya badan melenyapkan hidup, lenyapnya hidup berarti musnahnya badan; pendek kata antara hidup dan badan muncul bersamaan dan musnahnya pun bersamaan juga.
389.
Karena perbuatan baik ataupun buruk dilakukan dengan perantaraan badan, maka badan itulah yang menerima akibat dari perbuatan baik ataupun buruk. Pada hakekatnya badan adalah pelaku dari perbuatan dan juga sebagai penerima akibat perbuatan tersebut.
390.
Sekalian makhluk dikuasai oleh waktu dan menderita dalam waktu, menyadari semuanya, jangan pernah sia-siakan waktu, dengan segera berbuatlah kebajikan dan kebenaran.
Share:

SARASAMUSHAYA KEBODOHAN

 



Kebodohan
399.
Sesungguhnya musuh yang paling berbahaya bagi umat manusia adalah kebodohan, sebab kebodohan itu akan menyeret orang menuju perbuatan buruk dan kejahatan.
400.
Ajnaphrabhavarin hidam yadduhkhamupalabhyate lobhadeva tadajnanamajnanallobha eva ca. (Terjemahan Bhs Kawi: Apan ikang sukhadukha kabhukti, punggung sankanika, ikang punggung, kalobhan sangkanika, ikang kalobhan, punggung sangkanika, matangyan punggung sangkaning sangsara)
Duka muncul dari kebodohan, kebodohan muncul dari ego, dan ego itu bersumber dari kebodohan; maka kebodohan itulah penyebab dari kesengsaraan.
401.
Oleh sebab itu waspadalah, lawanlah dengan sekuat tenaga kerakusan, demikian juga berantaslah pikiran egois dan keangkuhan, sebab rakus, egois dan angkuh adalah belenggu jiwa yang sangat kuat dan semu itu muncul dari kebodohan.
402.
Hendaknya lenyapkanlah kebodohan dengan ilmu pengetahuan, sebab ilmu pegetahuan akan mengantar manusia menuju kesadaran dan pemahaman mutlak akan hakekat segala sesuatu; mereka yang tercerahi akan mampu mengatar dirinya menuju kebahagiaan sejati. Sedangkan si bodoh akan tetap berada dalam lingkaran kesengsaraan.
403.
Bagaikan keberadaan orang buta yang hendak mencari jalan pulang, amat besarlah kesusahan yang dialaminya, demikianlah mereka yang bodoh, dunia ini menjadi tempat kesengsaraan belaka.
404.
Tiada disangsikan lagi, orang bodoh selalu merasakan kepedihan hati. ia menjadi kesal bertemu dengan orang-orang yang dibencinya, ia birahi jika bertemu dengan orang-orang yang disukainya; demikianlah dikarenakan oleh kebodohan, mereka diombang-ambing oleh suasana hatinya.
Share:

SARASAMUCHAYA KESEIMBANGAN JASMANI DAN ROHANI

 




Keseimbangan Rohani Jasmani

405.
Seperti keberadaan seorang pandai emas yang sedang melebur emas, jika kurang cakap dan giat proses peleburan berlangsung lama; sebaliknya jika cakap dan giat, emas itu dapat dengan cepat dilebur.
406.
Demikianlah keberadaan sang jiwa dalam usaha pembersihannya agar menjadi suci dan bebas dari ego angkara, jika cerdas dan berusaha dengan giat niscaya jiwa dengan cepat dapat disucikan; sebaliknya jika bodoh dan malas, meskipun dalam beratus-ratus inkarnasi jiwa belum juga bisa disucikan.
407.
Bagaikan orang yang secara rutin membersihkan badannya, ia tidak memerlukan waktu lama untuk mandi; tidak demikian halnya dengan orang yang jarang mandi, diperlukan waktu lama dan usaha yang keras agar dapat terbebas dari kotoran. Demikianlah kemarahan, kerakusan, dan segala bentuk pencemaran indra-indra harus dibersihkan dengan giat dari badan.
408.
Cara menghilangkan kemarahan janganlah ambil hati hinaan. Cara menghilangkan birahi sesat jangan sampai dirasuki asmara buta. Cara menghilangkan kebodohan tinggalkanlah kebingungan. Cara menghilangkan keserakahan/kerakusan, sadarlah terhadap kemampuan diri dan puaskan hati. cara menghilangkan ikatan duniawi, sadarlah akan hakekat segala sesuatu yang tidak pernah abadi.
409.
Adapun harapan/khayalan akan tercapainya sesuatu dileyapkan oleh kesadaran akan kuasa takdir. Kelekatan pada kemewahan dan kesenangan dileyapkan oleh ketidakterlekatan diri padanya. belenggu cinta dan kasih sayang dapat dikendorkan oleh keyakinan akan ketidakkekalan hidup. Kesusahan dan kedukaan hati dilenyapkan oleh pengendalian indra-indra dalam yoga.
410.
Kesombongan diberantas oleh kasih sayang, nafsu dilenyapkan oleh perasaan puas dan gembira; kemalasan dihilangkan oleh usaha, kebimbangan pun keragu-raguan dihilangkan oleh kemantapan dan keyakinan pada kesejatian.
411.
Jika keangkuhan dan keakuan dapat dimusnahkan, cinta kasih masyarakat akan datang; jika nafsu birahi dapat dikendalikan dengan baik, kenikmatan sejati akan diperoleh; jika kemarahan dapat dihilangkan, lenyaplah musuh-musuh dan perasaan curiga; jika mampu lepas dari nafsu indrawi, tidak akan ada lagi kesedihan.
412.
Masing-masing Indra selalu menuntut kepuasannya, orang yang bijaksana akan mengendalikan indra-indranya dengan baik, sebab jika indra tanpa kendali, ia akan menjauhkan orang dari perbuatan-perbuatan bajik dan benar.
413.
Untuk menangkis datangnya nafsu birahi sesat, hendaknya orang jangan merindukan hubungan terlarang, jangan memikirkannya, jangan menyentuhnya, jangan melihat apapun yang menyebabkan munculnya nafsu sesat itu. Jika birahi dapat di kendalikan, pastilah akan jauh dari kejahatan.
414.
Sebab munculnya birahi sesat bersumber dari kegairahan pada sesuatu yang tidak pantas, jika hasrat hati itu tidak dapat dikekang dan bertambah kuat pastilah orang akan tenggelam dalam kesesatan. Maka dari itu orang yang bijaksana tidak akan membiarkan dirinya diperbudak oleh nafsu birahi.
415.
Orang bijaksana paham betul baik-buruk segala sesuatu, ia memiliki pemahaman sempurna akan hakekat apapun; ia yang tercerahi dapat melihat dunia yang tadinya kejam menjadi ramah, yang tadinya buruk menjadi indah, yang tadinya kurang kini berlimpah.
416.
Segala yang ada dan tersedia disemesta ini adalah milik bersama sekalian makhluk, hanya orang-orang serakahlah yang beranggapan bahwa ia adalah pemiliknya, lalu mereka terjebak dan diperbudak oleh kebencian dan kelobaan hati; sedangkan bagi orang bijaksana hanya kepuasan hati itulah yang dijadikannya harta pribadi.
417.
Bagi orang bijaksana kelekatan pada objek-objek indra itulah yang justru di tinggalkannya.
418.
Orang-orang sengsara dan merana kerena ditinggal kekasihnya, sedangkan bagi mereka yang bijaksana tidak akan ada kesedihan yang melemahkan hati, sebab paham betul akan hukum ketidak kekalan.
419.
Usahakanlah segala sesuatu untuk tujuan kebajikan, hendaknya dipertimbangkan betul kemalasan diri, sebab inilah sumber dari kebodohan.
420.
Maka bagi mereka yang hendak memperoleh kebahagiaan sejati, istirahatlah pada jam istirahat, bekerjalah pada jam kerja, jangan melamun, jangan diperbudak birahi, jangan mabok, jangan malas, jangan berbuat jahat, dan kendalikanlah nafsu-nafsu indrawi.
421.
Pengendalian pikiran harus terus di usahakan, jangan biarkan hawanafsu bebas bergerak semaunya, sebab kejahatan pasti muncul dari liarnya nafsu yang akhirnya akan menenggelamkan orang pada duka nestapa.
422.
Orang yang diperbudak nafsu dan mereka yang selalu memenuhi kenikmatan indrawinya sungguh tidak akan pernah merasa puas walau segala upaya telah dilakukan untuk memanjakan nafsu indrawinya itu, bagaikan usaha ayam hutan yang hendak berteduh pada bayangan burung elang, kapankah ia akan terhindar dari panas terik.
423.
Birahi sesat itu jika dituruti tidak akan pernah terpuaskan, meskipun orang telah memberikan apa yang diidam-idamkannya; makin dituruti makin hebat keadaannya. Bagaikan api yang menyala karena minyak, semakin banyak dituangi semakin bertambah besar saja nyalanya.
Share:

SARASAMUSCHAYA HARTA DAN NAPSU

 




Harta, Kekayaan dan Keinginan

451.
Perhatikanlah orang tua itu, rambutnya telah rontok, badanya kurus kering dan bungkuk; demikian juga giginya telah tanggal semua, berjalan terhuyung-huyung karena kaki sudah tidak kuat lagi menyangga tubuhnya; akan tetapi keinginannya akan hidup yang berlimpah kekayaan sedikitpun tidak berkurang, sangat kukuh dan tidak tergoyahkan.
452.
Tidak ada apapun didunia ini yang dapat memenuhi keinginan, sebab orang yang diperbudak keinginan tiada bedanya dengan usaha si bodoh yang hendak memenuhi samudra dengan air sumurnya.
453.
Jika kekayaan dan harta bertambah, bertambah jugalah keinginan itu, bagaikan keadaan tanduk lembu yang akan menjadi semakin besar dan panjang jika si lembu semakin dewasa dan semakin gemuk, demikianlah keinginan itu akan menjadi semakin bertambah hebat jika segala kemauannya dituruti.
454.
Tiada bedanya keinginan itu dengan keberadaan seorang wanita yang dapat menundukkan suaminya, dengan tega si istri menyuruh suaminya mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang tidak pantas untuk dilakukan; demikianlah kehebatan keiinginan apabila selalu dituruti segala kehendaknya, niscaya ia akan memperbudak korbannya dan dibawalah mereka menuju kesesatan.
455.
Sesungguhnya sangat hebat pengaruh keinginan itu, timbulnya permusuhan, peperangan, dan berbagai kejahatan disebabkan olehnya; sebaliknya jika orang mampu menguasai keinginan maka tiada permusuhan dan dendam kesumat baginya, tiada kemiskinan pun kekayaan dan dapat terbebas dari duka nestapa.
456.
Bagaimanakah rupa dan wujud dari keinginan? Adalah sesuatu yang tidak berbadan namun sangat kuat melekat dalam badan, tidak mungkin tersingkirkan oleh orang-orang jahat; ia tidak turut musnah apabila badan sakit, merana dan sengsara, bahkan dapat tetap bertahan hidup walaupun badan telah mati. Jika keinginan itu dapat ditundukkan dan dikendalikan, kebahagiaan sejati pasti tercapai.
457.
Jika seluruh kesenangan di bumi dan kesenangan pahala surga disatukan, kemudian beratnya itu ditimbang dengan kebahagiaan sejati karena dapat terbebas dari keinginan, maka kesenangan bumi dan surga itu menjadi seringan kapas yang melayang tertiup angin.
458.
Keinginan itulah yang melahirkan keserakahan, tiada bedanya keserakahan itu dengan buaya, karena keduanya sama kejam menenggelamkan orang ke dalam kesengsaraan, jika keserakahan bertambah hebat timbullah kejahatan, adapun kejahatan itu mendatangkan penderitaan dan kesengsaraan.
459.
Singkatnya keinginan menimbulkan keserakahan, keserakahan merupakan rumah dari segala macam kejahatan, jika orang telah di kuasai oleh keserakahan ia pasti akan menjadi jahat, walau awalnya ia bijaksana dan suci sekalipun.
460.
Semakin besar keserakahan itu, semakin bertambah besar saja ketidak puasan hati, jika orang tidak puas pastilah mengalami kesedihan dan kedukaan. Apabila keserakahan itu mengacaukan pikiran maka tiadagunalah kebijaksanaan dan segala ilmu pengetahuan yang dimiliki.
461.
Melalui keserakahan harta kekayaan didapatkan, setelah berhasil munculah ketakutan akan adanya pencurian, perampokan dll; apabila harta itu berkurang bukan main sedih hatinya, apabila menjadi bangkrut rasanya lebih buruk dari kematian; singkat kata keserakahan itu hanya menimbulkan kesedihan dan kedukaan hati saja.
462.
Setelah berhasil memperoleh harta hasil keserakahan, berikutnya munculah kecongkakan, kebingungan dan kesusahan. Menjadi congkak karena harta diperoleh dengan mudah, bingung karena harta hasil kejahatan, dan susah karena takut harta akan segera habis.
463.
Mereka yang memperoleh harta dengan cara jahat, tiada orang yang tidak dicurigainya, bahkan ia juga curiga pada api yang bisa membakar hartanya, pada air yang bisa menghayutkan hartanya, pada angin yang bisa menerbangkan hartanya; bagaikan keberadaan sang maut yang selalu ditakuti oleh makhluk hidup. Dalam kecurigaan dan ketakutan kapankah kebahagiaan itu diperoleh?
464.
Tiada bedanya harta sesat itu dengan daging dendeng, semua tempat ditakutinya; jika ia ditaruh di atas burunglah yang ditakutinya, jika dibawah anjinglah yang ditakutinya, jika ditaruh di air ikanlah yang ditakutinya; semua tempat mendatangkan kecurigaan bagi orang yang memperoleh hartanya dengan cara sesat.
465.
Tiada yang abadi, persaudaraan, pernikahan, dan persahabatan yang terjalin semuanya kelak akan berpisah; bahkan lekatnya roh dengan badan sekalipun, kelak apabila tiba waktunya akan dipisahkan oleh maut. Menyadari itu semua apa sebabnya manusia menginginkan perolehan harta dengan cara yang sesat.
466.
Banyak orang yang berani mempertaruhkan nyawanya dan membunuh demi harta; ada orang yang mau menjual harga dirinya pun orang lain demi harta; bahkan banyak orang yang mau menjadi penjilat demi harta; demikian kuatnya keinginan akan perolehan harta, padahal ketika ia mati tidak akan ada sedikitpun yang bisa dibawanya ke alam akherat.
467.
Harta sesat adalah harta hasil keserakahan, keserakahan itu adalah sumber dari segala jenis kejahatan, kejahatan menghasilkan dosa, dari dosa diperolehlah neraka.
468.
Tiga yang dapat membuat manusia itu mabuk dan bingung, diantaranya: 1) lawan jenis (pria/wanita); 2) harta (kekayaan) dan 3) tahta (kekuasaan). Jika ada orang yang dikuasai olehnya, ia sesungguhnya sedang tidur atau pingsan dalam hidupnya.
469.
Hasrat akan kekayaan dan nafsu sesat pada lawan jenis berkeadaan sama dengan riaknya ombak, sama-sama goncang, berkeadaan tidak tetap, dan tidak bisa diprediksi; karena sifatnya yang berubah-ubah hendaknya orang bijaksana tidak lekat padanya, sebab kenikmatan yang diberikan oleh harta dan nafsu sesat itu sama persis dengan kenikmatan jika berlindung dibawah mulut ular yang berbisa.
470.
Janganlah menjadi bingung, jangan berlebih-lebihan dalam mengejar harta, hendaknya dilakukan secara wajar dan benar, sebab hasrat badaniah dan panca indra itu adalah rintangan terberat dari umat manusia.
471.
Kemiskinan dan kekayaan itu terlihat berbeda, seolah-olah si miskin adalah wujud kesengsaraan dan si kaya adalah wujud kebahagiaan; padahal jika dicermati, orang kaya yang tidak perah merasa puas akan selalu saja diganggu oleh perasaan takut bangkrut sedangkan si miskin yang puas dengan hidupnya berhasil memperoleh kebahagiaan.
472.
Oorang-orang yang suka mengejar perolehan harta secara sesat, tidak ada satupun dari mereka yang dapat terbebas dari kesusahan juga tidak ada satupun dari mereka yang akan memperoleh kebahagiaan sejati; maka dari itu orang bijak tidak akan mengumpulkan harta dengan cara sesat, bahkan pikiran-pikiran tentang kesesatan itu dengan cepat hendaknya dienyahkan dari dalam diri.
473.
Suka dan duka sejatinya disebabkan oleh pikiran sendiri; orang menjadi suka hatinya melihat suatu yang menyenangkan, sebaliknya orang dapat mengalami duka nestapa ketika melihat sesuatu yang tidak menyenangkan; seseorang menjadi senang ketika dapat memungut sekeping emas sebaliknya yang kehilangan menjadi berduka; orang berduka karena kecurian sedangkan si pencuri bergembira mendapat harta curian. Inilah yang menjadi alasan bahwa sesungguhnya suka dan duka itu di sebabkan oleh subjektifitas pikiran.
474.
Sangat sukar memperoleh harta kekayaan; sangat berat tanggung jawab untuk mensejahterakan keluarga, namun sebaliknya sangat mudah untuk memperoleh kesengsaraan, mereka yang dapat memahami ketiganya berdasarkan kewajiban pasti dapat terbebas dari belenggu kesengsaraan.
475.
Maka dari itu hendaknya segala sesuatu yang terkait dengan keduniawian dilakukan atas dasar kewajiban dan jangan sampai terikat olehnya, bagaikan keadaan sang ular yang melepaskan kulitnya dengan ikhlas demi perkembangan dirinya menuju kebaikan.
Share:

SARASAMUSCHAYA IKATAN CINTA KASIH

 




Keluarga dan Cinta Buta
476.
Mereka yang terikat kuat oleh perasaan cinta buta, sesungguhnya sangat gemar hidup dalam kesedihan dan duka hati; bagaikan menusuk jatung sendiri dengan tombak.
477.
Karena cinta buta itulah asal mula dari kesedihan hati, perasaan yang buta itu membuat hidup terkekang dan terbelenggu duka hati.
478.
Jika sangat lekat cinta buta itu pada keluarga, hingga segala cara hendak dilakukan demi kemewahan keluarga, keadaan orang ini sama dengan seekor gajah tua yang dengan sengaja menenggelamkan diri dan keluarganya dalam lumpur.
479.
Mereka yang mencintai anak dan istrinya secara buta hingga tanpa sadar melakukan tindakan-tindakan yang justru menyesatkan keluarganya berkeadaan layaknya orang yang tanpa sadar minum minuman keras hingga mabuk, mereka menjadi bingung, kacau pikirannya dan membahayakan orang lain.
480.
Kelurga, istri, bahkan anak dengan sengaja harus dinasehati, dimarahi bahkan dihukum jika mereka melakukan tindakan-tindakan jahat; keluarga, istri, bahkan anak hendaknya dengan rela ditinggalkan ketika ajal tiba.
481.
Apapun yang berlebih-lebihan hendaknya ditinggalkan saja, karena tidak mungkin akan membawa pada kebaikan; demikian juga cinta yang berlebih-lebihan hanya akan membawa orang pada kesengsaraan saja.
482.
Jangan memikirkan lagi ikatan-ikatan duniawi, harta, keluarga anak dan istri ketika ajal menjemput, bebaskan diri dari ikatan-ikatan duniawi agar dapat mencapai kebebasan.
483.
Sesunggunya segala kesenangan dan duka dalam hidup ini terkait erat dengan kehidupan terdahulu.
484
Sesungguhnya orang terpisah kemudian bertemu kemudian berpisah lalu bertemu lagi pada akhirnya akan terpisah juga oleh kematian, walaupun kelak dapat bertemu lagi dalam kehidupannya yang akan datang.
485.
Demikianlah persahabatan terjalin, pernikahan terjadi, anak dilahirkan pada akhirnya semua akan dipisahkan oleh sang maut kematian, oleh karena itu janganlah terlalu besedih apalagi sampai menyengsarakan diri apabila perpisahan itu terjadi.
Share:

SARASAMUSCHAYA PEMBEBASAN

 



Pembebasan

486.
Tiada yang tahu akan penjelmaan manusia, tidak juga dapat diketahui berapa banyak penjelmaan yang telah dilalui, berkali-kali pernah menjadi ayah, ibu, suami, istri, dan anak; menyadari siklus ini siapakah yang sebenarnya dengan permanen dapat dikatakan seketurunan, dan yang manakah dapat anda tunjuk satu keturunan permanen dengan anda?
487.
Tidak ada hubungan yang kekal, bahkan hubungan anda dengan badan pun tidak kekal, suatu saat dan pasti akan tiba saatnya anda berpisah dengan badan sendiri.
488. Dinyatakan hidup datang dari ketiadaan dan akan kembali tiada, menyadari ini yang manakah sesungguhnya menjadi hak milik secara permanen, sedangkan cepat atau lambat akan tiba saatnya dimana anda akan berpisah dengan sesuatu yang dianggap kepunyaan sendiri.
489.
Akan tiba saatnya kita berpisah dengan kekayaan, akan tiba saatnya kita berpisah dengan orang tua, akan tiba saatnya kita berpisah dengan anak-anak, dengan sahabat, teman dll; ketika perpisahan itu terjadi hanyalah baik buruk perbuatan diri yang setia menemani.
490.
Adalah mereka yang selalu bersedih akan yang mati, adalah mereka yang selalu bersedih akan harta yang hilang; sangat besarlah kesedihan hatinya, kesedihan itulah sumber dari kesengsaraan.
491.
Inilah obat untuk memusnahkan kesedihan, jangan pernah membiarkan diri larut dalam kesedihan yang berkepanjangan akibat kehilangan dan kematian, jangan pernah menenggelamkan diri dalam kedukaan hati, sadarilah bahwa pada akhirnya tiada apapun yang kekal, manusia akhirnya akan berpisah dengan orang-orang yang disayang, akhirnya mereka akan kehilangan harta kekayaan; orang yang senantiasa sadar dan ikhlas pada yang hidup pasti akan mati, yang datang pasti akan hilang, dapat terbebas dari kedukaan dan kesedihan hati.
492.
Ada kalanya orang meninggalkan kekayaannya, seringkali kekayaan meninggalkan orang, tiada kekallah pertalian orang dengan hartanya dan harta dengan orangnya, inilah bukti bahwa segala sesuatu itu tidak akan pernah kekal; orang yang bijaksana dan sadar akan hakekat ini, pasti dapat terebas dari ikatan.
493.
Sebaiknya kuatkanlah diri dengan ilmu pengetahuan yang benar, yang dapat membimbing orang untuk senantiasa berkeadaan sadar pada hukum ketidak kekalan dan dapat terbebas dari ikatan.
494.
Mereka yang sadar akan ketidakkekalan, walaupun layu bunga yang disuntingkan dirambut kepalanya tidak akan membuatnya berduka atau bersedih, sedangkan mereka yang buta, amat bersedih hatinya jika sesuatu yang diyakininya sebagai kepunyaan menjadi berkurang walaupun hanya beberapa bagian kecil saja.
495.
Perhatikan orang yang bahkan hingga mempertaruhkan jiwanya demi menumpuk harta kekayaan, orang seperti ini sungguh kurang bijaksana sebab mereka yang bijaksana hanya mau bersusah-susah asalkan dengan tidak susah juga ia dihilangkan. Orang yang kurang bijak karena mendapatkan harta dengan sangat susah menjadi terikat kuat dengan hartanya itu, sedangkan mereka yang bijak meskipun tampaknya harta didapat dengan cara susah tidaklah terikat beliau olehnya.
496.
Ada suka pasti ada duka; ada yang kaya pasti ada yang miskin; ada yang hidup pasti ada yang mati. Sekarang suka suatu saat pasti mengalami duka, sekarang kaya suatu saat pasti menjadi miskin, sekarang hidup suatu saat pasti akan mati, demikianlah keadaannya datang dan pergi, hidup dan mati silih berganti; mereka yang bijaksana tidak bergembira pada yang datang dan tidak pula beliau bersedih pada yang pergi, senantiasa tenang dan jerih pikirannya.
497.
Nikmatilah kesukaan dan kesedihan, jalani hidup dalam kaya dan miskin, ikhlaslah pada yang hidup dan yang mati. Janganlah pikirkan hasil dan kontribusi yang didapatkan dari usaha, akan tetapi teruslah berbuat bajik dan benar, bagaikan orang bersawah tahan akan panas terik matahari dan tetap bekerja berdasarkan kewajiban, setelah saatnya tiba panen pasti akan diperoleh.
498.
Sesungguhnya tidak dapat dihindari suka dan duka itu, sebab keduanya adalah anugerah bagi pendewasaan diri; namun mereka yang bijak tidak akan dapat dikacaukan oleh keduanya dan justru mendapatkan manfaat darinya.
499.
Hidup ini bagaikan putaran roda, yang tadinya di atas berikutnya akan berada dibawah, demikian juga yang di bawah berikutnya akan berada di atas, demikian juga suka dan duka itu datang silih berganti, ada kalanya suka berikutnya duka, adakalanya duka berikutnya suka; sesungguhnya semua itu terhubung dengan hukum sebab akibat dari perbuatan sendiri; baik ataukah buruk kualitas hidup saat ini, sungguh disebabkan oleh perbuatan masa lalu.
500.
Jika orang sadar akan hakekat dari hukum sebab akibat perbuatan, demikian juga sadar akan hakekat kelahiran dan kematian (hukum karma), semakin ia sadar akan hakekatnya semakin tidak terlekati dirinya oleh kesenangan dan kesedihan, orang seperti inilah yang disebut bijaksana.
501.
Pikiran yang dipenuhi oleh pengetahuan sejati (hakekat karma), inilah hendaknya dipergunakan untuk melenyapkan kedukaan hati; seperti rempah-rempah dapat dipakai melenyapkan penyakit badan, demikianlah kearifan budi dapat dipakai menyembuhkan penyakit-penyakit rohani.
502.
Penyakit rohani pada akhirnya pasti akan menimbulkan penyakit fisik; seperti besi yang dibakar hingga panas lalu dicemplungkan kedalam air, panas jugalah air itu akhirnya.
503.
Oleh sebab itu kekacauan pikiranlah yang hendaknya dimusnahkan lebih dulu dengan kearifan budi, bagaikan keberadaan api yang akan padam oleh air, demikian juga apabila kekacauan pikiran lenyap, hilang jugalah sakitnya badan.
504.
Bukannya orang yang telah berusia lanjut, bukannya orang yang sudah ubanan, dan bukannya orang yang keriput kulitnya dikatakan bijaksana, melainkan hanya orang yang paham akan hekekat paling hakiki dari pengetahuan itu sajalah yang pantas dinyatakan bijaksana.
505.
Mereka yang arif bijaksana tidak bersedih jika mengalami kesusahan, tidak bergirang hati jika memperoleh kesenangan, tidak digelapkan hatinya oleh kemarahan, ketakutan dan kedukaan hati; mereka yang bijak tetap tenang dan jernih hatinya dalam berbagai situasi.
506.
Beribu-ribu kesusahan, demikian juga ribuan marabahaya dan kedukaan hati datang dalam hidup ini, hanya pikiran si bodohlah yang dapat dikacaukan oleh keadaan itu, sedangkan mereka yang arif bijaksana sedikitpun tidak terkacaukan.
507.
Mereka yang telah berhasil memahami hakekat paling hakiki dari pengetahuan pasti dapat melenyapkan segala pikiran kotor, dapat melenyapkan perkataan kotor, dan dapat melenyapkan perbuatan kotor. Mereka yang berkeadaan suci terbebas dari sifat ego dan malas, rohani pun jasmaninya dipenuhi oleh sifat baik dan bajik.
508.
Mereka yang arif bijaksana tidak akan dibutakan hatinya oleh kenikmatan duniawi; walaupun dikelilingi oleh berbagai kesenangan, oleh berbagai kelesatan makanan, mereka yang arif bijaksana tidak akan terlekati olehnya. Adapun mereka yang bodoh menjadi sangat senang saat memperoleh kenikmatan hidup pun amat berduka ketika memperoleh kesengsaraan hidup, hati mereka buta oleh kebodohannya.
509.
Kearifan budi jika dikotori oleh kekotoran pikiran berkeadaan tidak murni lagi, seperti kemurnian emas menjadi berkurang karena adanya logam campuran, menyebabkan cahaya emas menjadi kurang cemerlang.
510.
Jika tekun dalam melatih dan menyucikan pikiran niscaya kecemaran badanpun akan lenyap, jika kekotoran badan dapat dilenyapkan oleh pengetahuan hakiki, terhapuslah segala macam kesengsaraan hidup.
511.
Demikian hebatnya kekuatan pikiran itu, ia tidak tampak namun kenyataannya ia ada dan menjadi sumber dari segalanya, ia sumber dari kebahagiaan pun sumber dari kesengsaraan, berkeadaan layaknya jejak-jejak burung yang terbang diudara atau jejak ikan yang berenang di air.
Share:

Ilmu Sastra Jendra Hayuningrat

 

Ilmu Sastra Jendra Hayuningrat: Puncak Ilmu Jawa | Satrio Piningit | Imam Mahdi | Ratu Adil



 Ilmu Sastra Jendra Hayuningrat ini sesungguhnya berasal dari Tuhan yang isinya merupakan wejangan berupa mantra sakti untuk keselamatan dari unsur-unsur kejahatan di dunia. Ilmu ini juga merupakan rahasia dari agama dan dapat menyelamatkan siapapun (manusia dan alam semesta) dari berbagai marabahaya



PUNCAK ILMU KESEMPURNAAN,SASTRA JENDRA HAYUNINGRAT PANGRUWATING DIYU



 

Share:

Contact Us

Name

Email *

Message *

Search This Blog

Powered by Blogger.

About Me

My photo
My Name is NI NENGAH DESSI.I am a blogger.Female.I am a Balinese.Indonesia is my country.

SEGEHAN HARI RAYA NYEPI

  Kemarin banyak yang tanya Segehan yg 11tanding itu untuk dimana Ini saya share ulang yang lebih lengkap. ✓ Tri Mala Paksa, yaitu Bhuta Buc...