Cabe merupakan bahan
sayuran rumah tangga yang mempunyai banyak manfaat. Selain menjadi bahan pokok
untuk bahan campuran sayuran dan olahan makanan, cabe juga mengandung vitamin c
yang tinggi dan baik untuk kesehatan. Berikut ini adalah tutorial cara praktis
menanam cabe di rumah. Cara menanam agar berbuah lebat. Cara menanam cabai
sangat mudah karena itu dapat dilakukan sendiri di rumah. Menanam cabe akan memberi
keuntungan ekonomis, apalagi bila harga cabe dipasaran sedang tinggi tingginya.
Semoga bermanfaatCabe merupakan bahan sayuran rumah tangga yang mempunyai
banyak manfaat. Selain menjadi bahan pokok untuk bahan campuran sayuran dan
olahan makanan, cabe juga mengandung vitamin c yang tinggi dan baik untuk
kesehatan. Berikut ini adalah tutorial cara praktis menanam cabe di rumah. Cara
menanam agar berbuah lebat. Cara menanam cabai sangat mudah karena itu dapat
dilakukan sendiri di rumah. Menanam cabe akan memberi keuntungan ekonomis,
apalagi bila harga cabe dipasaran sedang tinggi tingginya. Semoga bermanfaat
CARA MENANAM CABE
1. Siapkan
Media Semai Media yang dianjurkan untuk penyemaian adalah
campuran tanah, pupuk kandang atau kompos dan sekam bakar dengan perbandingan
3:2:1. Untuk mencegah serangan penyakit, media semai terlebih dahulu
disterilisasi. Sterilisasi dilakukan dengan mengukus media atau dengan menjemur
di panas matahari. Kemudian didinginkan, dimasukan ke dalam wadah penyemaian,
dan disiram.
Wadah semai yang bias digunakan antara lain
polybag kecil, kantung plastik, daun pisang, nampan plastik, atau memanfaatkan
gelas plastik bekas minuman yang diberi lubang.
2. Siapkan Benih Benih
Benih diambil dari pertanaman yang sehat, yakni
yang berasal dari buah yang telah matang penuh dan sehat. Sebelum benih
disemai, terlebih dahulu benih direndam dalam air hangat kuku (suhu 45-50
derajat celcius) selama 1 jam guna mempercepat tumbuhnya benih. Selain dengan
air hangat, benih juga dapat direndam dalam larutan fungisida Previcur N dengan
dosis 1-2 cc per liter air selama 1 jam. Fungsinya selain untuk mempercepat
tumbuhnya benih juga untuk mencegah serangan jamur.
Selama perendaman, benih yang cacat dan yang
mengapung dibuang. Setelah itu benih ditiriskan dan dikering anginkan di atas
kertas koran agar tidak lengket di tangan saat menyemaikan.
3. Penyemaian
Benih disemai satu persatu dalam wadah semai yang
sudah di isi media semai, dan ditutup dengan media semai halus dengan cara
diayakan. Untuk mempertahankan kelembaban, persemaian ditutup dengan karung
plastik atau goni atau daun pisang. Selama di pesemaian dilakukan penyiraman
dengaUmur 5-7 hari setelah semai, benih akan tumbuh. Tutup persemaian dibuka.
Setelah berumur 20-30 hari atau berdaun 4-5 helai, bibit dapat dipindahkan ke
dalam pot atau polybag besar.n memercikan air.
4. Media Tanam
dan Penanaman
Media tanam untuk budidaya cabai rawit dalam pot
atau polybag adalah campuran tanah dan pupuk kandang atau kompos dengan
perbandingan 1:1. Jika tanahnya padat, dapat ditambahkan sekam bakar atau sekam
yang sudah lapuk dengan perbandingan antara tanah, pupuk kandang/kompos dan
sekam, 3:2:1. Ukuran pot/polybag besar yang dianjurkan adalah 40x50 cm.
Penanaman atau pemindahan bibit dari polybag kecil
ke polybag besar sebaiknya dilakukan pada sore hari agar bibit mempunyai waktu
yang cukup untuk beradaptasi pada malam hari. Bibit yang ditanam adalah yang
telah berumur 20-30 hari atau berdaun 4-5 lembar. Sebelum bibit ditanam atau
dipindahkan, terlebih dahulu disiram dengan air sampai medianya jenuh.
Selanjutnya bibit dikeluarkan dari wadah pembibitan dengan hati-hati dan
ditanam pada pot/polybag besar. Media dijaga agar tidak pecah.
5. Pemeliharaan Tanaman
Pemeliharaan merupakan salah satu kunci
keberhasilan dalam menanam cabai rawit. Pemeliharaan harus dilakukan secara
disiplin, di antaranya penyiraman, penyiangan, dan pemupukan.
Penyiraman dilakukan setiap hari pada pagi atau
sore hari jika tidak ada hujan. Penyiangan dilakukan sekali dua minggu dengan
cara membuang rumput-rumput liar yang ada di dalam dan di sekitar pot/polybag.
Tunas samping serta sebagian daun yang tumbuh
sampai dengan ketinggian 15 - 25 cm dari permukaan tanah dipangkas/dirempel.
Pemangkasan bertujuan untuk menghindari percikan air penyiraman yang menempel
pada bagian tanaman, batang menjadi kokoh dan kuat, pertumbuhan bagian atas
tanaman lebih sempurna, dan sirkulasi udara lebih baik.
Pemasangan ajir dilakukan sedini mungkin menggunakan
bahan yang kuat, seperti kayu, bambu atau bahan lainnya.
6. Pemupukan
Pupuk kimia diberikan setelah tanaman berumur 1
bulan. Pupuk yang diberikan adalah NPK. Kemudian larutan pupuk disiramkan pada
tanaman sebanyak kurang lebih 200 ml per pot/polybag, satu kali dalam 10 hari.
Sebagai pupuk tambahan dapat juga diberikan air
cucian beras, air cucian daging/ikan, pupuk cair (urine ternak), dan pupuk
nabati seperti daun Titonia. Air cucian beras atau air cucian daging/ikan
sebelum digunakan terlebih dahulu disaring. Urine ternak yang digunakan adalah
yang sudah difermentasi.
7.
Pengendalian Hama
Tantangan yang cukup berat dalam budidaya cabai
adalah serangan hama dan penyakit atau OPT. Hama yang banyak menyerang tanaman
cabai rawit antara lain ulat tanah, ulat grayak, ulat buah, kutu kebul, kutu
daun, trips dan tungau. Penyakit yang banyak menyerang antara lain: Virus
kuning, busuk buah Antraknos, Layu Fusaium, layu bakteri, bercak daun serkos
poradan rebah kecambah.
Pengendalian hama dan penyakit dilakukan dengan
menerapkan prinsip pengendalian hama terpadu (PHT), yaitu melakukan budidaya
secara sehat yang diawali dengan pemilihan varietas tahan, benih yang bebas
serangan OPT, perlakuan benih, sterilisasi media semai, penyiraman, sanitasi
lahan dan pemupukan secara teratur, serta pengamatan rutin setiap pagi dan sore
hari.
Pengamatan rutin pada pagi dan sore dilakukan
karena umumnya hama menghinggapi tanaman pada pagi dan sore hari sampai malam.
Jika ditemukan hama, langsung dilakukan pengendalian secara mekanik, yaitu
dengan mengambil hama dan membunuhnya.
Selanjutnya disemprotkan
pestisi dan abati atau bio pestisida, seperti minyak seraiwangi dengan dosis
1-3 cc/liter air yang ditambah dengan sedikit detergen. Pestisi dan abati
lainnya bias dibuat dari daun sirsak, daun mindi, daun bengkuang, bayam duri,
bunga kembang puku lempat, tembakau dan lain-lain.
8. Panen dan
Pasca Panen
Panen cabai rawit dilakukan saat berumur sekitar
80-90 hari setelah tanam (HST), tergantung pada varietas dan ketinggian tempat
umbuh. Panen sebaiknya dilakukan pada cuaca cerah. Cabai rawit bisa dipanen
setiap 1 minggu sekali. Jika budidaya dilakukan dengan benar, cabai rawit mampu
berproduksi hingga 2 sampai 3 tahun.
Saudara pun dapat memperoleh hasil melimpah jika
memperhatikan dengan benar cara menanam cabai rawit di atas. Selamat mencoba!
Sampian gantung ini
merupakan simbol penolak bala yang termasuk dalam kategori gantung-gantungan
pada sarana upakara Hindu merupakan sarana wajib saat Hari Raya Galungan
ataupun Petoyan (Piodalan). Cara membuatnya pun mudah dan tidak memerlukan
bahan yang banyak, hanya menggunakan 4 busung. Semoga bermanfaat ya :)
Banten
dalam agama Hindu adalah bahasa agama. Ajaran suci Veda sabda suci Tuhan itu
disampaikan kepada umat dalam berbagai bahasa. Ada yang meggunakan bahasa tulis
seperti dalam kitab Veda Samhita disampaikan dengan bahasa Sanskerta, ada
disampaikan dengan bahasa lisan. Bahasa lisan ini sesuai dengan bahasa
tulisnya.
Setelah di Indonesia disampaikan dengan bahasa Jawa Kuno dan di
Bali disampaikan dengan bahasa Bali. Disamping itu Veda juga disampaikan dengan
bahasa Mona. Mona artinya diam namun banyak mengandung informasi tentang
kebenaran Veda dan bahasa Mona itu adalah banten. Dalam Lontar Yajña Prakrti
disebutkan:
“sahananing bebanten pinaka raganta tuwi, pinaka warna rupaning
Ida Bhatara, pinaka anda bhuana”
artinya:
semua jenis banten (upakara) adalah merupakan simbol diri kita,
lambang kemahakuasaan Hyang Widhi dan sebagai lambang Bhuana Agung (alam
semesta).
Banten Pejati Banten pejati adalah nama Banten atau (upakara),
sesajen yang sering dipergunakan sebagai sarana untuk mempermaklumkan tentang
kesungguhan hati akan melaksanakan suatu upacara, dipersaksikan ke hadapan
Hyang Widhi dan prabhavaNya. Dalam Lontar Tegesing Sarwa Banten, dinyatakan:
Banten itu adalah buah pemikiran artinya pemikiran yang lengkap
dan bersih.
Bila dihayati secara mendalam, banten merupakan wujud dari
pemikiran yang lengkap yang didasari dengan hati yang tulus dan suci.
Mewujudkan banten yang akan dapat disaksikan berwujud indah, rapi, meriah dan
unik mengandung simbol, diawali dari pemikiran yang bersih, tulus dan suci.
Bentuk banten itu mempunyai makna dan nilai yang tinggi mengandung simbolis
filosofis yang mendalam. Banten itu kemudian dipakai untuk menyampaikan rasa
cinta, bhakti dan kasih.
Pejati berasal bahasa Bali, dari kata “jati” mendapat awalan
“pa”. Jati berarti sungguh-sungguh, benar-benar. Banten pejati adalah
sekelompok banten yang dipakai sarana untuk menyatakan rasa kesungguhan hati
kehadapan Hyang Widhi dan manifestasiNya, akan melaksanakan suatu upacara dan
mohon dipersaksikan, dengan tujuan agar mendapatkan keselamatan. Banten pejati
merupakan banten pokok yang senantiasa dipergunakan dalam Pañca Yajña. Adapun
unsur-unsur banten pejati, yaitu:
1. Daksina Unsur-unsur yang membentuk daksina:
– Alas bedogan/srembeng/wakul/katung; terbuat dari janur/slepan
yang bentuknya bulat dan sedikit panjang serta ada batas pinggirnya . Alas
Bedogan ini lambang pertiwi unsur yang dapat dilihat dengan jelas. §
Bedogan/ srembeng/wakul/katung/ srobong daksina ;terbuat dari
janur/slepan yang dibuta melinkar dan tinggi, seukuran dengan alas wakul.
Bedogan bagian tengah ini adalah lambang Akasa yang tanpa tepi. Srembeng
daksina juga merupakan lambang dari hukum Rta ( Hukum Abadi tuhan )
– Tampak; dibuat dari dua potongan janur lalu dijahit
sehinga membentuk tanda tambah. Tampat adalah lambang keseimbangan baik
makrokosmos maupun mikrokosmos.
– Beras; lambang dari hasil bumi yang menjadi sumber
penghidupan manusia di dunia ini. Hyang Tri Murti (Brahma, Visnu, Siva)
– Porosan; terbuat dari daun sirih, kapur dan pinang
diikat sedemikian rupa sehingga menjadi satu, porosan adalah lambang pemujaan
– Benang Tukelan; adalah simbol dari naga Anantabhoga dan
naga Basuki dan naga Taksaka dalam proses pemutaran Mandara Giri di Kserarnava
untuk mendapatkan Tirtha Amertha dan juga simbolis dari penghubung antara
Jivatman yang tidak akan berakhir sampai terjadinya Pralina. Sebelum Pralina
Atman yang berasal dari Paramatman akan terus menerus mengalami penjelmaan yang
berulang-ulang sebelum mencapai Moksa. Dan semuanya akan kembali pada Hyang
Widhi kalau sudah Pralina.
– Uang Kepeng; adalah lambang dari Deva Brahma yang
merupakan inti kekuatan untuk menciptakan hidup dan sumber kehidupan.
– Telor Itik; dibungkus dengan ketupat telor, adalah
lambang awal kehidupan/ getar-getar kehidupan , lambang Bhuana Alit yang
menghuni bumi ini, karena pada telor terdiri dari tiga lapisan, yaitu Kuning
Telor/Sari lambang Antah karana sarira, Putih Telor lambang Suksma Sarira, dan
Kulit telor adalah lambang Sthula sarira.
– Pisang, Tebu dan Kojong; adalah simbol manusia yang
menghuni bumi sebagai bagian dari ala mini. Idialnya manusia penghuni bumi ini
hidup dengan Tri kaya Parisudhanya.
– Gegantusan; yang terbuat dari kacan-kacangan dan
bumbu-bumbuan, adalah lambang sad rasa dan lambang kemakmuran.
– Papeselan yang terbuat dari lima jenis dedaunan yang
diikat menjadi satu adalah lambang Panca Devata; daun duku lambang Isvara, daun
manggis lambang Brahma, daun durian lambang Mahadeva, daun salak lambang Visnu,
daun nangka atau timbul lamban Siva. Papeselan juga merupakan lambang kerjasama
(Tri Hita Karana).
– Buah Kemiri; adalah sibol Purusa / Kejiwaan / Laki-laki.
§ Buah kluwek/Pangi; lambang pradhana / kebendaan / perempuan.
– Kelapa; simbol Pawitra (air keabadian/amertha) atau
lambang alam semesta yang terdiri dari tujuh lapisan (sapta loka dan sapta
patala) karena ternyata kelapa memiliki tujuh lapisan ke dalam dan tujuh
lapisan ke luar. Air sebagai lambang Mahatala, Isi lembutnya lambang Talatala,
isinya lambang tala, lapisan pada isinya lambang Antala, lapisan isi yang keras
lambang sutala, lapisan tipis paling dalam lambang Nitala, batoknya lambang
Patala. Sedangkan lambang Sapta Loka pada kelapa yaitu: Bulu batok kelapa
sebagai lambang Bhur loka, Serat saluran sebagailambang Bhuvah loka, Serat
serabut basah lambang svah loka, Serabut basah lambanag Maha loka, serabut
kering lambang Jnana loka, kulit serat kering lambang Tapa loka, Kulit kering
sebagai lamanag Satya loka Kelapa dikupas dibersihkan hingga kelihatan batoknya
dengan maksud karena Bhuana Agung sthana Hyang Widhi tentunya harus bersih dari
unsur-unsur gejolak indria yang mengikat dan serabut kelapa adalah lambang pe
ngikat indria.
– Sesari; sebagai labang saripati dari karma atau
pekerjaan (Dana Paramitha)
– Sampyan Payasan; terbuat dari janur dibuat menyerupai
segi tiga, lambang dari Tri Kona; Utpeti, Sthiti dan Pralina.
– Sampyan pusung; terbuat dari janur dibentuk sehingga
menyerupai pusungan rambut, sesunggunya tujuan akhir manusia adalah Brahman dan
pusungan itu simbol pengerucutan dari indria-indria
2. Banten Peras Yang menjadi unsur-unsur Peras, yaitu:
– Alasnya Tamas/ taledan/ Ceper; berisi aled/ kulit peras,
kemudian disusun di atasnya beras, benang, base tampel/porosan, serta uang
kepeng/recehan. Diisi buah-buahan, pisang, kue secukupnya, dua buah tumpeng,
rerasmen/lauk pauk yang dialasi kojong rangkat, sampyan peras, canang sari.
Pada prinsipnya Banten Peras memiliki fungsi sebagai permohonan agar semua
kegiatan tersebut sukses (prasidha)
– Aled/kulit peras, porosan/base tampel, beras, benang,
dan uang kepeng; merupakan lambang bahwa untuk mendapatkan keberhasilan
diperlukan persiapan yaitu: pikiran yang benar, ucapan yang benar, pandangan
yang benar, pendengaran yang benar, dan tujuan yang benar.
– Dua buah tumpeng; lambang kristalisasi dari duniawi
menuju rohani, mengapa dua tumpeng karena sesungguhnya untuk dapat menghasilkan
sebuah ciptaan maka kekuatan Purusa dan Pradhana (kejiwaan/laki-laki dengan
kebendaan/perempuan) harus disatuakan baru bisa berhasil (Prasidha), tumpeng
adalah lambang keuletan orang dalam meniadakan unsur-unsur materialis, ego
dalam hidupnya sehingga dapat sukses menuju kepada Tuhan.
– Tamas; lambang Cakra atau perputaran hidup atau Vindu
(simbol kekosongan yang murni/ananda). § Ceper/ Aledan; lambang Catur marga
(Bhakti, Karma, Jnana, Raja Marga)
– Kojong Ragkat, tempat lauk pauk; memiliki makna jika
ingin mendapatkan keberhasilan harus dapat memadukan semua potensi dalam diri
(pikiran, ucapan, tenaga dan hati nurani)
– Sampyan peras; terbuat dari empat potong janur dibentuk
menyerupai parabola di atasnya, merupakan lambang dari kesiapan diri kita dalam
menerima intuisi, inisiasi, waranugraha dari Hyang Widhi yang nantinya akan
kita pakai untuk melaksanakan Dharma.
3. Banten Ajuman/Soda Yang menjadi unsur-unsur banten
Ajuman/Soda:
– Alasnya tamas/taledan/cepe; berisi buah, pisang dan kue
secukupnya, nasi penek dua buah, rerasmen/lauk-pauk yang dialasi tri kona/
tangkih/celemik, sampyan plaus/petangas, canang sari. Sarana yang dipakai untuk
memuliakan Hyang Widhi (ngajum, menghormat, sujud kepada Hyang Widhi)
– Nasi penek adalah nasi yang dibentuk sedemikian rupa
sehingga berbentuk bundar dan sedikit pipih, adalah lambang dari keteguhan atau
kekokohan bhatin dalam mengagungkan Tuhan, dalam diri manusia adalah simbol
Sumsuma dan Pinggala yang menyangga agar manusia tetap eksis.
– Sampyan Plaus/Petangas; dibuat dari janur kemudian
dirangkai dengan melipatnya sehingga berbentuk seperti kipas, memiliki makna
simbol bahwa dalam memuja Hyang Widhi manusia harus menyerahkan diri secara
totalitas di pangkuan Hyang Widhi, dan jangan banyak mengeluh, karunia Hyang
Widhi akan turun ketika BhaktaNya telah siap.
4. Ketupat Kelanan Unsur-unsur yang membentuk ketupat kelanan:
– Alasnya tamas/taledan atau ceper, kemudian diisi buah, pisang
dan kue secukupnya, enam buah ketupat, rerasmen/lauk pauk + 1 butir telor
mateng dialasi tri kona/ tangkih/celemik, sampyan palus/petangas, canang sari.
– Ketupat Kelanan adalah lambang dari Sad Ripu yang telah
dapat dikendalikan atau teruntai oleh rohani sehingga kebajikan senantiasa
meliputi kehidupan manusia. Dengan terkendalinya Sad Ripu maka keseimbangan
hidup akan meyelimuti manusia.
5. Penyeneng/Tehenan/Pabuat Yang membentuk Penyeneng:
– Jenis jejaitan yang di dalamnya beruang tiga masing-masing
berisi beras, benang, uang, nasi aon (nasi dicampur abu gosok) dan porosan,
adalah jejahitan yang berfungsi sebagai alat ntuk nuntun, menurunkan Prabhawa
Hyang Widhi, agar Baliau berkenan hadir dalam upacara yang diselenggarakan.
Panyeneng dibuat dengan tujuan untuk membangun hidup yang seimbang sejak dari
baru lahir hingga meninggal.
– Ruang 1, berisi Nasi aon adalah lambang dari dewa Brahma
sebagai pencipta alam semesta ini dan merupakan sarana untuk menghilangkan
semua kotoran (dasa mala)
– Ruang 2 berisi beras benang dan uang, lambang dari dewa
Visnu yang memelihara alam semesta ini, beras adalah sumber makanan manusia,
uang adalah alat transaksi untuk melangsungkan kehidupan, benang sebagai
penghubung antara manusia dengan manusia, manusia dengan lingkungan dan manusia
dengan Hyang Widhi.
– Ruang 3 berisi bunga, daun kayu sakti (dapdap), yang
ditumbuk dengan kunir dan beras, melambangkan dewa Siva dalam prabhawaNya
sebaga Isvara dan Mahadeva yang senantiasa mengarahkan manusia dari yang tidak
baik menuju benar, meniadakan (pralina) Adharma dan kembali ke jalan Dharma.
– Bagian atas dari Penyeneng ini ada jejahitan yang
menyerupai Ardhacandra = Bulan, Windu = Matahari, dan Titik = bintang dan
teranggana (planet yang lain).
TUTURIAL BUAT PENYENENG
6. Pesucian Pesucian terdiri dari :
– Sebuah ceper /taledan yang berisi tujuh bua tangkih kecil yang
masing-masing tangkih berisi: Bedak (dari tepung), Bedak warna kuning (dari
tepung berwarna kuning), Ambuh (kelapa diparut/ daun kembang sepatu dirajang),
Kakosok (rengginang yang dibakar hingga gosong), Pasta (asem/jeruk nipis),
Minyak Wangi, Beras. Di atasnya disusun sebuah jejahitan yang disebut payasan
(cermin, sisir dan petat) terbuat dari janur.
– Pada intinya pesucian merupakan alat-alat yang dipakai
untuk menyucikan Ida Bhatara dalam suatu upacara keagamaan
– Secara instrinsik mengandung makana filosofis bahwa
sebagai manusia harus senantiasa menjaga kebersihan phisik dan kesucian rohani
(cipta , rasa dan karsa), karena Hyang Widhi itu maha suci maka hanya dengan
kesucian manusia dapat mendekati dan menerima karunia Beliau.
TUTORIAL MEMBUAT PESUCIAN
7. Segehan
– Secara etimologi Segehan artinya Suguh (menyuguhkan), dalam
hal ini adalah kepada Bhuta Kala, yang tak lain adalah akumulasi dari
limbah/kotoran yang dihasilkan oleh pikiran, perkataan dan perbuatan manusia
dalam kurun waktu tertentu. Dengan segehan inilah diharapkan dapat menetralisir
dan menghilangkan pengaruh negatik dari libah tersebut. Segehan adalah lambang
harmonisnya hubungan manusia dengan semua ciptaan Tuhan
– Jahe, secara imiah memiliki sifat panas. Semangat dibutuhkan
oleh manusia tapi tidak boleh emosional.
– Bawang, memiliki sifat dingin. Manusia harus menggunakan
kepala yang dingin dalam berbuat tapi tidak boleh bersifat dingin terhadap
masalah-masalah sosial (cuek)
– Garam, memiliki PH-0 artinya bersifat netral, garam
adalah sarana yang mujarab untuk menetralisir berbagai energi yang merugikan
manusia (tasik pinaka panelah sahananing ngaletehin).
– Tetabuhan Arak, Berem, Tuak, adalah sejenis alkhohol,
dimana alkhohol secara ilmiah sangat efektif dapat dipakai untuk membunuh
berbagai kuman/bakteri yang merugikan. Oleh kedokteran dipakai untuk mensteril
alat-alat kedokteran. Metabuh pada saat masegeh adalah agar semua bakteri,
Virus, kuman yang merugikan yang ada di sekitar tempat itu menjadi hilang/mati.
8. Sarana yang Lain
– Daun/Plawa; lambang kesejukan.
– Bunga; lambang cetusan perasaan
– Bija; lambang benih-benih kesucian.
– Air; lambang pawitra, amertha
– Api; lambang saksi dan pendetanya Yajna.
9. Siapa yang menerima Banten pejati ?
Banten Pejati dihaturkan kepada Sanghyang Catur Loka Phala,
yaitu
11. Penjelasan Bahan Banten Pejati Menurut Lontar Tegesing Sarwa
Banten;
a. Mengenai rerasmen: “ Kacang, nga; ngamedalang pengrasa
tunggal, komak, nga; sane kakalih sampun masikian”. Artinya: Kacang-kacangan
menyebabkan perasaan itu menjadi menyatu, kacang komak yang berbelah dua itu
sudah menyatu. “ Ulam, nga; iwak nga; hebe nga; rawos sane becik rinengo”.
Artinya: Ulam atau ikan yang dipakai sarana rerasmen itu sebagai lambang bicara
yang baik untuk didengarkan.
b. Mengenai buah-buahan; “ Sarwa wija, nga; sakalwiring gawe,
nga; sana tatiga ngamedalang pangrasa hayu, ngalangin ring kahuripan”. Artinya:
Segala jenis buah-buahan merupakan hasil segala perbuatan, yaiyu perbuatan yang
tiga macam itu (Tri Kaya Parisudha), menyebabkan perasaan menjadi baik dan
dapat memberikan penerangan pada kehidupan.
c. Mengenai Kue/Jajan: “ Gina, nga; wruh, uli abang putih, nga;
lyang apadang, nga; patut ning rama rena. Dodol, nga; pangan, pangening citta
satya, Wajik, nga; rasaning sastra, Bantal, nga; phalaning hana nora, satuh,
nga; tempani, tiru-tiruan”. Artinya; Gina adalah lambang mengetahui, Uli merah
dan Uli putih adalah lambang kegembiraan yang terang, bhakti terhadap guru
rupaka/ ayah-ibu, Dodol adalah lambang pikiran menjadi setia, wajik adalah
lambang kesenangan mempelajari sastra, Bantal adalah lambang dari hasil yang
sungguh-sungguh dan tidak, dan Satuh adalah lambang patut yang ditirukan.
d. Mengenai bahan porosan: “ Sedah who, nga; hiking mangde hita
wasana, ngaraning matut halyus hasanak, makadang mitra, kasih kumasih”.
Artinya: Sirih dan pinang itu lambang dari yang membuatnya
kesejahteraan/kerahayuan, berawal dari dasar pemikirannya yang baik, cocok
dengan keadaanny, bersaudara dalam keluarga, bertetangga dan berkawan
Demikian kupasan banten Pejati baik (upakara) maupun kajian
filosofisnya, sehingga dengan pemahaman ini dapat menumbuhkan kesadaran,
keyakinan, dan kemantapan umat Hindu dalam membuat dan menghaturkan Banten
Pejati dan melaksanakan ajaran agama Hindu yang penuh dengan simbol-simbol,
sehingga dapat mengikis dogma “Anak Mula Keto”, di masa yang akan datang.
BERIKUT TUTORIAL MEMBUAT BANTEN PEJATI
Menurut Nyoman Ciri, banten Pejati adalah sesajen yang sering dipergunakan sebagai sarana untuk mempermaklumkan tentang kesungguhan hati akan melaksanakan suatu upacara, dipersaksikan ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa dan prabhavaNya, dengan unsur-unsur: daksina, banten peras, banten ajuman/soda, tipat kelanan, penyeneng/tehenan/pabuat, pesucian, dan segehan.
TUTORIAL MEMBUAT SAMPIAN PENYENENG
Penyeneng Berasal dari
asal kata "nyeneng " yang artinya hidup , mendapat awalan pe menjadi
"penyeneng" yang dapat diberikan arti "dibuat supaya
hidup". Jadi penyeneng tersebut memiliki makna permohonan kehadapan Sang
Hyang Widhi agar dianugrahi kehidupan baik untuk Bhuwana Agung maupun Bhuana
Alit dalam keseimbangan / keselarasannya.
BERIKUT INI TUTORIAL MEMBUAL SAMPIAN PERAS
BERIKUT INI CARA MEMBUAT SAMPIAN KULIT PERAS
CARA MEMBUAT BANTEN PERAS SEBAGAI BAGIAN DARI BANTEN PEJATI
BERIKUT TUTORIALNYA
Banten sodan ini salah
satu bagian dari banten pejati
kali ini aku akan bagikan resep cara membuat Nasi Tumpeng Mini, cara membuatnya sangat mudah & hasilnya istimewa banget, bisa kalian jadikan menu catering terutama untuk pelengkap snack ulang tahun dijamin anak-anak pasti suka dengan bentuknya yang sangat cantik dan menarik.
NASI KUNING:
- 8 cup beras
- 2 sachet santan instan
- 2 ruas kunyit
- 1 ruas jahe
- 1 ruas lengkuas
- 1 butir kemiri
- 3 lembar daun salam
- 1 batang sereh
- 2 sachet kaldu bubuk
AYAM GORENG:
- 15 potong paha ayam
- 2 sachet bumbu racik
- 1 liter air
TERI MAIN BOLA:
- 100 gram teri medan
- 100 gram kacang tanah
- 1 batang besar tempe
- 1 genggam cabe rawit merah
- 1 genggam cabe kriting
- 7 siung bawang merah
- 5 siung bawang putih
- 10 lembar daun jeruk
- 1 sachet kaldu bubuk
- garam
MIE GORENG:
- 2 bungkus mie telor
- 6 siung bawang merah
- 5 siung bawang putih
- 3 buah cabe kriting
- 1 butir kemiri
- 2 sdm udang rebon
- 1 sachet kecap manis
- 10 sendok kecap inggris
- 1 sachet kaldu bubuk
- garam
TELOR WARNA WARNI:
- 500 gram telur puyuh
- pewarna makanan
- air panas
TELUR DADAR:
- 5 butir telur
- garam
- merica
PELENGKAP:
- sosis
- daun selada
- mentimun
1 resep diatas jadi 15 Tumpeng Mini dengan mika Tumini diameter 15 cm, bisa dijual dengan harga 20.000 - 30.000 tergantung banyaknya lauk yang kalian pakai, silahkan sesuaikan sendiri harga jualnya dengan harga bahan baku didaerah setempat.